Bagi traveler yang berkunjung ke Papua, keripik sukun adalah oleh-oleh yang populer dari Sorong, Manokwari dan Jayapura. Mari mengenal tanaman ini lebih jauh.
Keripik sukun rasanya gurih, bertekstur renyah, dibuat dari irisan tipis buah sukun yang digoreng garing. Dalam budaya Papua, sukun diolah dengan dikukus, dibakar atau digoreng.
Buah sukun memiliki tekstur sangat lembut, dan legit seperti roti, sehingga oleh bule dikenal sebagai breadfruit atau buah roti tropis yang kaya akan nutrisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buah sukun telah dibudidayakan dan menjadi makanan pokok selama lebih dari 3.000 tahun yang lalu oleh penutur Austronesia dalam pelayarannya di Samudra Pasifik.
Buah ini pertama kali diperkenalkan ke Eropa oleh para penjelajah Inggris sekitar abad ke-18. Pada 1769, Kapten James Cook berlayar ke Tahiti dan menemukan buah sukun.
Ia menyadari potensinya sebagai tanaman pangan di daerah tropis lainnya dan mengusulkan kepada Raja George III agar sebuah ekspedisi khusus ditugaskan untuk mengangkut bibit sukun dari Tahiti ke koloni Inggris di Karibia.
Pada 1787, William Bligh diangkat sebagai Kapten HMS Bounty dan diinstruksikan oleh Kerajaan Inggris untuk mengangkut lebih dari 1.000 pohon sukun dari Tahiti ke Karibia untuk digunakan sebagai sumber makanan berenergi tinggi dan bergizi bagi para budak Inggris.
Buah sukun telah menjadi identitas masyarakat Kepulauan Pasifik. Oleh mereka, buah sukun yang melimpah saat musim panen dikubur di tanah dan difermentasi untuk tujuan pengawetan.
Hasilnya adalah pasta yang lembut dan asam, yang terkadang dicampur dengan santan dan dimasak dalam daun pisang.
--------
Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII Sulawesi Utara
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar