DPR Minta Guci Segera Direvitalisasi, Akses Pancuran 13 Digratiskan
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

DPR Minta Guci Segera Direvitalisasi, Akses Pancuran 13 Digratiskan

Femi Diah - detikTravel
Rabu, 18 Feb 2026 09:05 WIB
Warga berada samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026). Intensitas hujan yang tinggi dan rusaknya hutan di kaki Gunung Slamet mengakibatkan tiga jembatan hanyut, lima o
Warga berada samping bangunan yang rusak diterjang banjir bandang di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (25/1/2026)(Oky Lukmansyah/Antara)
Tegal -

Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendorong percepatan pemulihan dan penataan menyeluruh kawasan Objek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah setelah bencana. Dia juga mengusulkan agar akses menuju kolam ikonik Pancuran 13 menjadi gratis.

Fikri mengatakan langkah itu bermanfaat untuk memulihkan ekonomi masyarakat dan menarik kembali kunjungan wisatawan yang sempat merosot drastis.

"Kami telah mendengarkan aspirasi masyarakat yang ingin mengembalikan tata kelola seperti sebelum tahun 2019. Sebelum tahun 2019, pengunjung Pancuran 13 Guci dipungut biaya Rp10 ribu. Setelah BKSDA Kemenhut bekerja sama dengan swasta, mulai memungut tarif masuk hingga naik menjadi Rp 27.000," kata Fikri dikutip dari Antara, Rabu (18/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyampaikan pernyataan itu saat mendampingi kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani meninjau langsung kondisi kawasan Pancuran 13 pada Senin (16/2) lalu.

Peninjauan tersebut dihadiri pula oleh Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafiie, anggota DPR RI Novita Wijayanti dan Danang Wicaksana, serta perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

ADVERTISEMENT

Fikri lalu menegaskan bahwa setelah proses revitalisasi dan rekonstruksi kawasan tersebut rampung, pengelolaannya harus diserahkan kembali kepada warga tanpa adanya pungutan retribusi yang memberatkan.

"Pengelolaan diserahkan kembali kepada masyarakat, bahkan masyarakat adat pun menyatakan siap untuk mengelolanya. Sekali lagi, pengelolaan tanpa pungutan biaya ini bertujuan untuk menguatkan arti dan makna dari keberadaan Pancuran 13," kata dia.

Selain itu, ujar Fikri menambahkan, revitalisasi wisata Guci tidak boleh sekadar berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Penataan komprehensif, menurut dia, juga wajib menyertakan reboisasi dan langkah konkret mitigasi agar bencana banjir bandang serupa tidak terulang di masa depan.

Langkah penggratisan itu juga sejalan dengan harapan masyarakat setempat. Tokoh masyarakat Guci, Beni Khaeroni, menyatakan bahwa sejak awal Pancuran 13 adalah fasilitas publik.

"Kami berharap ke depan tidak lagi dipungut biaya agar kembali menjadi daya tarik dan memberi manfaat luas bagi warga," kata Beni.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads