Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyiapkan langkah terpadu untuk mengatasi kemacetan di jalur wisata Puncak. Persoalan klasik itu terus berulang, terutama saat akhir pekan dan musim liburan, termasuk Lebaran 2026.
Upaya tersebut diawali dengan kajian ulang terhadap rekayasa lalu lintas agar penanganan tidak lagi bersifat situasional seperti sistem satu arah (one way), yang selama ini dilakukan. Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan kajian itu untuk mencari cara yang lebih sistematis dan terintegrasi.
Dia juga menyebut atas arahan Bupati Bogor Rudy Susmanto kajian itu melibatkan berbagai pihak, mulai dari Korlantas Polri, Dinas Perhubungan, hingga instansi teknis seperti PUPR.
"Rekayasa lalu lintas ini kita kaji ulang, apakah nanti menggunakan traffic light, pengaturan jam kendaraan, atau skema lain yang lebih efektif," kata Ajat usai rapat penataan jalur wisata Puncak di Cisarua, pada Jumat (27/3/2026), dilansir Antara.
Ya, kemacetan di Puncak bukan persoalan baru. Cerita terjebak macet di jalur Puncak selama 5-6 jam atau 9-10 jam muncul berulang.
Kemacetan itu juga sudah menjadi pembahasan tingkat kabupaten, provinsi, hingga level kementerian, periode kini dan lalu. Namun, solusi jitu belum tercapai.
Faktanya, jalur sepanjang sekitar 22,7 kilometer dengan lebar rata-rata 7 meter itu harus menampung volume kendaraan yang bisa mencapai 20.000 hingga 80.000 unit per hari saat libur panjang.
Dilansir detikNews, dalam laporan Satlantas Polres Bogor tercatat total sebanyak 826.858 kendaraan roda empat melintasi Jalan Raya Puncak selama Operasi Ketupat Lodaya 2026, mulai 13-25 Maret 2026. Angka itu menunjukkan rata-rata volume kendaraan roda empat yang melintasi Jalur Puncak mencapai rata-rata 63 ribu kendaraan per hari.
Ketimpangan antara kapasitas jalan dan jumlah kendaraan inilah yang memicu kemacetan kronis. Tragisnya, kondisi itu memakan korban pada arus mudik Lebaran lalu. Kecelakaan lalu lintas melibatkan dua sepeda motor terjadi di Jalan Raya Puncak dan mengakibatkan satu pengendara bernama Fino meninggal dunia.
Selain untuk mengurai kemacetan, kajian tersebut juga menyoroti aspek keselamatan. Menurut Ajat, masih minimnya penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah titik membuat jalur Puncak rawan kecelakaan, terutama pada malam hari.
"Jalur Puncak ini masih gelap di beberapa titik, sehingga perlu didukung penerangan jalan umum dan rekayasa lalu lintas yang tepat," ujarnya.
(fem/fem)