Duh, Tradisi Hanami di Jepang Makin Mahal

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Duh, Tradisi Hanami di Jepang Makin Mahal

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Sabtu, 28 Mar 2026 19:17 WIB
TOKYO, JAPAN - 2022/04/02: People enjoy the cherry blossom (sakura) in Shinjuku Chuo Park. Spring sees many Japanese people enjoy hanami (cherry blossom viewing) by visiting parks and having picnics with food and alcohol. Tokyo city authorities have
Tradisi hanami di Jepang. (Damon Coulter/Getty Images)
Jakarta -

Tradisi musiman berwisata kala bunga sakura bermekaran atau hanami di Jepang terdampak inflasi global. Biaya piknik hanami itu naik signifikan.

Lembaga riset swasta Dai-ichi Life Research Institute mencatat, indeks biaya makanan dan minuman untuk hanami meningkat 25% sejak 2020. Kenaikan tersebut mencerminkan lonjakan harga berbagai kebutuhan piknik yang umum dibawa saat musim sakura.

Dikutip dari CNA, Sabtu (28/3/2026) setiap akhir Maret hingga awal April, taman-taman dan tepi sungai di Jepang biasanya dipadati warga dan wisatawan. Mereka menggelar tikar, membawa bento, camilan, dan minuman untuk menikmati mekarnya bunga sakura bersama keluarga maupun teman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tradisi itu menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Jepang setiap tahun. Namun, meningkatnya biaya bahan baku membuat harga makanan dan minuman ikut terdongkrak.

ADVERTISEMENT

Kondisi ini berdampak langsung pada anggaran wisata, terutama bagi pelancong yang ingin merasakan pengalaman hanami secara autentik. Kepala ekonom Dai-ichi Life Research, Hideo Kumano, memperbarui indeks yang ia susun sejak 2020 dengan menghitung harga rata-rata 14 item populer, seperti onigiri, bento, ayam goreng, keripik kentang, hingga bir.

Hasilnya, biaya hanami tercatat naik 4,2% pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan 2020, kenaikannya mencapai 25%.

Beberapa item bahkan mengalami lonjakan tajam, seperti roti manis Jepang yang naik 46,1%, minuman berkarbonasi 45,7%, dan onigiri 45%.

"Melemahnya yen dan kenaikan harga komoditas global menyebabkan inflasi akibat kenaikan biaya produksi di Jepang. Hanami jelas menghadapi dampak negatif dari tren inflasi global," kata Kumano.

Kenaikan itu tak lepas dari tekanan ekonomi global sejak pecahnya Perang Rusia-Ukraina, yang memicu lonjakan harga komoditas dan melemahkan nilai tukar yen. Dampaknya, biaya impor bahan baku di Jepang ikut meningkat.

Meski inflasi konsumen inti sempat bertahan di atas target Bank Sentral Jepang sebesar 2% selama hampir empat tahun, angkanya melambat menjadi 1,6% pada Februari. Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh subsidi bahan bakar dari pemerintah.




(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads