Ketegangan di kawasan Teluk mulai berdampak pada pola kunjungan wisata ke Italia. Mereka kehilangan turis jarak jauh.
Laporan dari perusahaan penyedia data yang berhubungan dengan pariwisata, Lybra Destination, menunjukkan meski jumlah wisatawan hanya turun tipis 1,6% dibanding tahun lalu, terjadi pergeseran signifikan dalam perilaku perjalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan paling terasa datang dari wisatawan jarak jauh, terutama Asia, yang banyak membatalkan rencana karena ketidakpastian. Sementara itu, wisatawan dari Eropa dan Amerika Utara cenderung tetap berwisata ke Italia, meski pun dengan durasi lebih singkat atau menunda terbang.
Melansir Tourism Review, Rabu (8/4/2026), muncul tren baru dalam pola perjalanan wisatawan ke Italia. Kini, turis cenderung memilih perjalanan jarak dekat dan melakukan pemesanan pesawat, hotel, hingga paket liburan mepet dengan keberangkatan.
Kondisi itu tercermin dari pertumbuhan maskapai berbiaya rendah sebesar 2,6%, sementara penerbangan melalui bandara utama global justru turun 4,9%.
Dari sisi destinasi, pergeseran juga terlihat jelas. Wilayah tengah dan selatan Italia mengalami peningkatan kunjungan, dengan Roma naik 15,6%, Palermo melonjak 20,9%, dan Napoli tumbuh 3,1%. Sebaliknya, kota-kota di utara justru mengalami penurunan, seperti Venesia yang turun 15%, Milan merosot 12%, dan Florence melemah 4,7%.
Berdasarkan asal wisatawan, kunjungan dari negara-negara terdekat relatif stabil bahkan meningkat, seperti Kanada (+5%), wisatawan domestik Italia (+3%), Jerman (+2%), dan Inggris (+1%). Di sisi lain, penurunan cukup tajam terjadi dari pasar jarak jauh, termasuk Prancis (-12%), Spanyol (-10%), Amerika Serikat (-9%), hingga Australia (-19%).
Perubahan itu menunjukkan bahwa dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah, turut mempengaruhi preferensi perjalanan wisatawan. Faktor jarak, biaya, dan rasa aman kini menjadi pertimbangan utama, sehingga wisatawan lebih selektif dalam merencanakan perjalanan mereka ke Italia.
Meski sempat terjadi penurunan minat, pemesanan perjalanan kembali meningkat mendekati waktu keberangkatan. Itu menunjukkan wisatawan kini lebih berhati-hati dan mengutamakan fleksibilitas.
Secara keseluruhan, pariwisata Italia tetap bertahan di tengah situasi global. Perubahan lebih terlihat pada pola perjalanan, bukan pada minat berkunjung.
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal