Siasat Turis China Hadapi Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Siasat Turis China Hadapi Kenaikan Harga Tiket Pesawat

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Jumat, 10 Apr 2026 11:15 WIB
Ilustrasi merencanakan liburan
Ilustrasi membeli tiket perjalanan. (Shutterstock)
Jakarta -

Traveler bereaksi cepat mengantisipasi lonjakan biaya bahan bakar penerbangan domestik di China. Mereka buru-buru membeli tiket untuk mengunci harga sebelum tarif baru berlaku pada 5 April.

Salah satunya Shrek Wang. Dia membeli lebih dari 20 tiket untuk sekitar 10 perjalanan hingga September 2026 tepat sehari sebelum kebijakan itu diterapkan.

"Saya biasanya sudah punya rencana perjalanan setahun. Kalau lihat harga cocok, langsung beli. Karena tahu biaya tambahan akan naik, saya beli lebih awal," ujarnya seperti dikutip dari The Straits Times, Jumat (10/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wang yang bekerja di Shenzhen dan rutin bepergian satu hingga dua kali sebulan itu memperkirakan bisa menghemat sekitar 2.000 yuan (Rp 5 juta) cukup untuk satu perjalanan pulang-pergi tambahan. Tiket termahal yang ia beli adalah rute Shenyang, sebesar 1.340 yuan (Rp 3,3 juta).

ADVERTISEMENT

Kenaikan tarif ini diumumkan sejumlah maskapai, termasuk Air China, pada 2 April 2026. Biaya tambahan naik dari 10 yuan (Rp 25 ribu) menjadi 60 yuan (Rp 150 ribu) untuk jarak hingga 800 km dan dari 20 yuan (Rp 50 ribu) menjadi 120 yuan (Rp 300 ribu) untuk rute di atas 800 km.

Lonjakan itu dipicu naiknya harga minyak dunia akibat konflik Iran yang mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz. Respons publik beragam, ada yang mengeluh, ada pula yang menanggapinya dengan kelakar.

Namun, tak sedikit yang mengikuti langkah Wang dengan menimbun tiket lebih awal. Di media sosial Xiaohongshu, pengguna membagikan strategi berburu tiket murah dan mengatur rute agar lebih hemat.

Fenomena tersebut mencerminkan tren baru wisata domestik China: permintaan tetap tinggi, tetapi wisatawan makin sensitif terhadap harga. Alih-alih membatalkan perjalanan, mereka justru mempercepat pemesanan dan menekan biaya.

Data platform Qunar menunjukkan pemesanan tiket untuk libur Hari Buruh 1-5 Mei naik hampir 20% dibanding tahun lalu, bahkan dilakukan lebih awal dari biasanya. Associate Professor di Xi'an Jiaotong-Liverpool University, Linjia Zhang, menilai wisatawan China kini semakin adaptif.

"Mereka menyesuaikan waktu pemesanan, memilih destinasi lebih hemat atau mengatur ulang anggaran perjalanan. Ini menunjukkan pola konsumsi yang lebih matang, di mana kepekaan harga berjalan seiring dengan keinginan untuk tetap bepergian," kata dia.




(upd/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads