Pada tahun 1932, Charlie Chaplin, di tengah krisis profesionalnya, sebagai raja komedi dan pantomim film bisu itu, diliputi kecemasan tentang kedatangan 'film bersuara' - film yang memberikan suara pada film-film yang sebelumnya bisu.
Charlie Chaplin memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Bali bersama saudara laki-lakinya, Sydney, di mana ia akan menemukan kedamaian dan inspirasi. Selanjutnya, melalui perjalanan ini, Chaplin mampu mengatasi ketakutannya terhadap film bersuara.
Kunjungan Charlie Chaplin ke Bali pada tahun 1932-1933 didokumentasikan dalam buku catatannya yang berjudul A Comedian Sees the World (Seorang Komedian Melihat Dunia) yang diterbitkan pada 1934. Chaplin juga mengulas kenangan perjalanannya ke Bali dalam My Autobiography pada 1964.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Charlie mungkin mengalami pencerahan mistis dan misterius saat berada di Bali, sesuatu yang dikenal dapat dipicu oleh pulau ini di antara mereka yang mencari perubahan.
Suara dan musik orkestra Bali membantu mengarahkan Charlie untuk berdamai, menerima teknologi baru yang memberikan suara pada filmnya. Setelah refreshingnya ke Bali pada 1932, Charlie beralih dari krisis karier ke era pembuatan film terbesarnya.
Empat tahun setelah perjalanannya ke Bali, Charlie kemudian membuat dua filmnya yang paling terkenal yakni Modern Times - dalam film ini ia menyanyikan sebuah lagu satir dan kemudian film kontroversial The Great Dictator.
Kesan Charlie tentang Bali adalah letaknya yang terpencil. "Betapa berbedanya, pikirku, dari apa pun yang pernah kulihat. Betapa jauhnya aku merasa terpisah dari seluruh dunia. Eropa dan Amerika tampak tidak nyata-seolah-olah mereka tidak pernah ada. Meskipun aku hanya berada di Bali beberapa jam, rasanya aku selalu tinggal di sana".
"Betapa mudahnya manusia jatuh ke dalam keadaan alaminya. Apa gunanya karier, peradaban dalam cara hidup alami ini? Dari orang-orang yang mudah beradaptasi ini, kita dapat memahami makna sejati kehidupan - bekerja dan bermain - bermain sama pentingnya dengan bekerja bagi keberadaan manusia. Itulah mengapa mereka bahagia. Sepanjang waktu saya berada di pulau itu, saya jarang melihat wajah sedih. Dari orang-orang yang tampak mudah bergaul ini, kita dapat memetik makna sejati kehidupan."
----
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara










































