China diprediksi segera menjadi kekuatan utama pariwisata dunia. Itu seiring pertumbuhan pesat wisata negeri panda dan melemahnya kunjungan wisatawan asing ke Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data terbaru dari World Travel & Tourism Council (WTTC) bersama mitra risetnya, Chase Travel, ekonomi sektor perjalanan dan pariwisata China tumbuh 9,9% sepanjang tahun lalu. Angka itu lebih dari dua kali lipat pertumbuhan global dan jauh melampaui kinerja AS yang hanya mencatat kenaikan 0,9%.
Dikutip dari The Business Times, Jumat (17/4/2026) pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan belanja wisatawan mancanegara ke China yang naik lebih dari 10% pada 2025. Sebaliknya, pengeluaran wisatawan asing di AS justru turun hampir 5% pada periode yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden dan CEO WTTC, Gloria Guevara, mengatakan jika tren tersebut berlanjut, China berpotensi menjadi ekonomi pariwisata terbesar di dunia sebelum akhir dekade ini.
"Ketika AS mengalami penurunan, China justru tumbuh dengan cepat. Jika tren ini berlanjut, dalam tiga hingga empat tahun ke depan China akan semakin mendekati posisi AS," kata Guevara.
Selama ini, AS menjadi destinasi wisata utama dunia dengan daya tarik seperti Disney World dan Times Square. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, jumlah wisatawan asing yang datang ke negara tersebut mengalami penurunan tajam.
Penurunan itu terjadi di tengah kebijakan imigrasi yang lebih ketat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Data International Trade Administration mencatat, sekitar 68 juta wisatawan mancanegara mengunjungi AS tahun lalu, turun 5,5% dibandingkan 2024.
Meski sejumlah agenda besar, seperti Piala Dunia 2026, diperkirakan dapat mendongkrak sektor pariwisata AS tahun ini, ketidakpastian global, termasuk dampak konflik Iran dinilai masih berpotensi menghambat pemulihan.
Menurut data WTTC dari sisi kontribusi ekonomi, sektor perjalanan dan pariwisata AS masih unggul dengan sumbangan sebesar USD 2,6 triliun (Rp 44 triliun) terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada tahun lalu. Sementara itu, China mencatat kontribusi sebesar USD 1,8 triliun (Rp 30 triliun).
(upd/fem)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong