World Health Organization (WHO) mengungkapkan adanya kemungkinan langka penularan virus hanta antarmanusia di kapal pesiar MV Hondius, yang dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan menewaskan tiga penumpang.
Virus hanta umumnya menyebar melalui hewan pengerat, namun dalam kasus ini WHO menduga penularan bisa terjadi di antara individu dengan kontak sangat dekat di dalam kapal. Meski begitu, WHO menegaskan bahwa risiko penularan ke masyarakat luas tetap rendah.
Operator kapal, Oceanwide Expeditions, menyatakan dua awak kapal yang berasal dari Belanda dan Inggris akan dievakuasi ke Belanda menggunakan pesawat setelah mengalami gejala pernapasan akut. Satu orang lain yang berkaitan dengan penumpang asal Jerman yang meninggal juga dijadwalkan ikut dievakuasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapal pesiar MV Hondius berlayar dari Argentina sekitar sebulan lalu untuk menyeberangi Samudra Atlantik. Saat ini kapal berada di dekat Tanjung Verde, di lepas pantai barat Afrika.
Mengutip BBC, Rabu (6/5/2026) tim medis dari Cape Verde, dengan dukungan WHO, telah naik ke kapal untuk menangani kasus yang diduga terkait virus hanta. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap penumpang dan awak yang menunjukkan gejala.
Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di kapal dengan penerapan langkah pencegahan ketat. Pejabat WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan pihaknya melihat kemungkinan penularan antarmanusia di antara kontak sangat dekat.
"Kami meyakini mungkin ada penularan antarmanusia yang terjadi di antara individu dengan kontak yang sangat dekat," ujarnya.
Ia menambahkan pasien pertama diduga sudah terinfeksi sebelum naik ke kapal. Hingga kini, WHO mencatat tujuh kasus virus hanta, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek.
Dua kasus terkonfirmasi tersebut adalah seorang perempuan asal Belanda yang termasuk korban meninggal, serta seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang telah dievakuasi ke Afrika Selatan untuk perawatan medis.
Sementara itu, suami perempuan Belanda tersebut juga meninggal, namun tidak dikonfirmasi terinfeksi virus hanta. Hal yang sama juga bagi warga negara Jerman yang meninggal pada Sabtu lalu.
Keluarga pasangan asal Belanda itu menyampaikan duka mendalam. "Perjalanan indah yang mereka jalani bersama harus terhenti secara tiba-tiba dan selamanya," tulis keluarga dalam pernyataan.
"Kami masih tidak percaya telah kehilangan mereka. Kami berharap dapat membawa mereka pulang dan mengenangnya dengan tenang dan penuh privasi," sambungnya.
WHO menduga virus yang terlibat adalah strain Andes, yang umum ditemukan di Amerika Selatan, lokasi awal pelayaran kapal. Meski demikian, tidak ditemukan tikus di dalam kapal.
Proses disinfeksi terus dilakukan, dan penumpang yang bergejala maupun yang merawat pasien diwajibkan menggunakan alat pelindung diri lengkap. WHO juga menilai kemungkinan terdapat lebih dari satu jalur penularan, mengingat kapal sempat singgah di sejumlah pulau yang memiliki populasi hewan pengerat.
Di sisi lain, Spanyol disebut telah memberi izin kapal untuk bersandar di Kepulauan Canary guna penilaian risiko dan pemantauan medis lanjutan. Namun, Kementerian Kesehatan Spanyol menyatakan belum ada keputusan final.
"Berdasarkan data epidemiologi yang dikumpulkan saat kapal melintas di Tanjung Verde, pemberhentian berikutnya akan ditentukan," jelas Kementerian Kesehatan Spanyol.
Hingga kini, belum ada permintaan resmi agar kapal berlabuh di wilayah tersebut, meski Spanyol menyatakan siap menangani situasi jika diperlukan. Para penumpang masih harus tetap berada di atas kapal, salah satu penumpang mengatakan suasana di kapal relatif baik.
"Kami berharap semua penumpang segera diuji sehingga situasinya menjadi lebih jelas," ungkap penumpang itu.
(upd/wsw)












































Komentar Terbanyak
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
4 Negara ASEAN Bersatu Bangun Rute Kereta Cepat, Tanpa RI
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal