Begitu Istimewanya Gunung Ciremai... Rumah Macan Tutul, Tower Air Jabar

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Begitu Istimewanya Gunung Ciremai... Rumah Macan Tutul, Tower Air Jabar

Femi Diah - detikTravel
Rabu, 13 Mei 2026 06:51 WIB
Warkop Lembong Gunung Ciremai.
Gunung Ciremai (Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Jakarta -

Gunung Ciremai tak hanya mempesona bagi para pendaki. Kekayaan alamnya menjadi jantung Jawa Barat, memiliki puluhan mata air, juga rumah beragam satwa liar.

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) pun berkomitmen menjaga kelestarian tutupan vegetasi hutan di kawasan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Langkah itu dilakukan untuk mempertahankan fungsi vitalnya sebagai "tower air" bagi empat kabupaten di Jawa Barat.

Kepala Balai TNGC Toni Anwar mengatakan kawasan konservasi seluas 14.841,3 hektare tersebut memegang peran ekologis besar dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kuningan, Majalengka, Cirebon, dan Indramayu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Taman Nasional Gunung Ciremai ini disebut Tower Air di Jawa Barat. Ada 97 titik mata air yang tidak pernah surut dan kualitasnya sangat murni hingga layak minum langsung dari sumbernya. Jika kondisi hutan berubah, maka masyarakat sekitar yang paling pertama terkena dampak krisis air," kata Toni di sela kegiatan forum "Sinergi Perempuan Indonesia Untuk Indonesia FOLU NET SINK 2030" Kemenhut di Kuningan, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026), dalam rilis yang diterima detikTravel.

Toni menjelaskan melalui upaya rehabilitasi yang konsisten, tutupan vegetasi di TNGC kini telah mencapai hampir 90 persen. Angka tersebut meningkat signifikan dari kondisi sebelum tahun 2004 yang sempat terbuka akibat beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur.

ADVERTISEMENT

Selain fungsi hidrologis, TNGC menjadi habitat kunci bagi tiga spesies prioritas, yakni Elang Jawa, Macan Tutul, dan Surili. Keberadaan satwa-satwa tersebut menjadi indikator kesehatan lingkungan di gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

"Munculnya Macan Tutul di kamera pemantau atau perjumpaan dengan Surili menunjukkan habitat di sini masih terjaga. Kami menyebut mereka akamsi atau anak kampung sini, penghuni asli yang harus kita lindungi bersama habitatnya," kata Toni.

Pengelolaan taman nasional tersebut, menurutnya, memang berbasis gerakan masyarakat. Dalam hal ini warga menjadi garda terdepan karena menyadari hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik.

TNGC kini mengelola sebanyak 30 titik Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dengan melibatkan masyarakat dari 54 desa penyangga, salah satunya Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur.

Warga setempat yang dulu penggarap lahan kawasan taman nasional kini alih profesi menjadi pengelola wisata sebagai bentuk pemberdayaan.

"Hubungan timbal balik antara hutan yang lestari dengan kemajuan ekonomi melalui wisata yang menarik," kata Toni.

Kegiatan Sinergi Perempuan Indonesia untuk Indonesia's FOLU Net Sink 2030 ini dilaksanakan pada 11-13 Mei 2026 di kawasan TNGC. Forum ini diikuti perwakilan kehumasan kementerian/lembaga, lembaga konservasi swadaya masyarakat, serta pewarta nasional.

Bagi para pendaki Gunung Ciremai menjadi salah satu gunung yang dibuka untuk para pendaki. Gunung itu memiliki enam jalur pendakian resmi yang menjadi favorit para pendaki, yakni jalur Apuy, Palutungan, Linggajati, Linggasana, Trisakti Sadarehe, dan Ciputri.

Jalur Apuy di Majalengka serta Palutungan di Kuningan menjadi rute yang paling populer karena aksesnya lebih mudah dengan fasilitas basecamp yang cukup lengkap. Dari Jakarta, pendaki dapat menuju kawasan Gunung Ciremai menggunakan kereta api, bus, travel, maupun kendaraan pribadi melalui Tol Cipali dengan waktu tempuh sekitar lima hingga tujuh jam perjalanan.

Di lereng Gunung Ciremai juga terdapat banyak destinasi wisata alam yang populer di kalangan wisatawan. Kawasan itu dikenal memiliki udara sejuk, panorama pegunungan, hingga wisata air alami.

Beberapa destinasi favorit di antaranya Telaga Biru Cicerem dengan air jernih berwarna kebiruan, Curug Putri Palutungan yang menawarkan suasana hutan asri, serta Bumi Perkemahan Palutungan yang kerap menjadi lokasi camping dan titik awal pendakian. Ada pula, Pemandian Air Panas Sangkanhurip dan kawasan wisata alam di Desa Cisantana.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads