Sejak 1920-an, Ubud menjelma dari desa sunyi menjadi simbol surga tropis dunia. Seniman, antropolog, hingga Hollywood ikut membangun citra eksotis Bali yang bertahan hingga era Eat Pray Love.
Adalah penulis dan turis Barat yang menciptakan citra abadi Bali sebagai surga tropis. Bintang film bisu Charlie Chaplin bahkan pernah berkata, "Jika keadaan menjadi yang terburuk, kita akan pergi ke Bali."
Ubud, Bali adalah lokasi pembuatan film bisu terakhir yang pernah diproduksi di Hollywood. Legong: Dance of the Virgins difilmkan di Ubud, Bali, antara Mei dan Agustus 1933, dan menampilkan seluruh pemeran orang Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disutradarai oleh Henry de la Falaise, awalnya film ini hanya ditayangkan di luar AS karena kekhawatiran tentang ketelanjangan wanita dalam film tersebut dan kehebohan yang akan ditimbulkannya. Film itu sukses di box office AS, diputar selama sepuluh minggu yang luar biasa lama di New York World Theater pada tahun 1935.
Sekitar 1927, Walter Spies, seorang seniman Jerman kelahiran Moskow, tiba di Ubud dan sangat terpesona hingga menjadikannya rumahnya selama 14 tahun berikutnya. Spies telah menemukan potensi kreatif Ubud dan membantu menempatkannya dalam daftar tujuan wisata impian para turis bule.
Spies berperan sebagai perantara budaya Bali dan Barat, rumahnya menjadi tujuan antropolog kelas dunia seperti Margaret Mead dan Gregory Bateson, komposer Colin McPhee dan istrinya yang juga seorang antropolog, Jane Belo, serta ahli etnografi tari Beryl de Zoete.
Pariwisata Bali dimulai pada awal tahun 1920-an, ketika Royal Dutch Steam Packet Company menambahkan pulau ini ke dalam rute perjalanannya. Pada tahun 1930, terdapat sekitar seratus pengunjung per tahun; satu dekade kemudian angkanya mencapai 250.
Kapal-kapal berhenti di lepas pantai Singaraja, dimana penumpang diangkut ke darat terlebih dahulu menggunakan perahu kecil. Sebagian besar turis akan menjelajahi pulau itu dengan mobil menuju Denpasar, di mana mereka menginap di Bali Hotel yang mewah, yang dibuka pada 1927.
Sejak 1930, selama bertahun-tahun, Ubud yang dulu merupakan surga bagi para backpacker berpenampilan lusuh, pencari hal-hal kosmik, seniman, kini telah berubah menjadi tempat populer bagi para sastrawan, kaum elit, kolektor seni, dan penikmat seni.
Ubud terus menjadi surga artistik dan spiritual bagi para selebritis dari seluruh dunia dan magnet bagi para pembuat film masa kini, termasuk film Eat, Pray, Love yang dirilis 13 Agustus 2010.
Pada 1952. pelukis Spanyol-Filipina, Antonio Blanco menetap di Ubud, jatuh cinta dengan seorang penari Ubud dan mengubah rumahnya menjadi museum terkenal.
Mick Jagger dan Jerry Hall melangsungkan pernikahan adat Hindu Bali yang ikonik pada November 1990 di kawasan Ubud. Michael Jackson mengunjungi rumah pelukis Antonio Blanco di Ubud pada akhir 1980-an atau awal 1990-an.
***
*Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong