Di awal tahun 2026 ini menjadi momentum baik bagi sektor pariwisata dalam kontribusi perekonomian di Indonesia. Hal itu juga diakui oleh Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Airlangga Hartanto.
Dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata 2026 yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pariwisata, Rabu (20/5/2026). Ia menyebutkan pada awal tahun 2026 ini kinerja ekonomi bergerak 5,64% hingga mencapai target dan menjadi fondasi yang kuat, di tengah situasi yang tidak menentu ini.
Sektor pariwisata dari paparannya menjadi salah satu andalan pendongkrak devisa. "Jadi kalau kita lihat ada dua. Perjalanan wisatawan mancanegara (wisman) tahun lalu mencapai 15,39 juta dengan pengeluaran sebesar 1,2 miliar USD," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan ini merupakan tren positif, di mana wisatawan Nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan. Dan di triwulan pertama, perjalanan wisnus sebesar 319 juta dan wisman sekitar 3,44 juta," lanjut Airlangga.
Kemudian, Airlangga menjelaskan target sektor pariwisata untuk PDB nasional adalah 5%, dengan perolehan devisa diharapkan mencapai 39,4 miliar USD. Angka tersebut menurutnya setara dengan nilai ekspor utama yang dimiliki Indonesia yaitu batu bara dan sawit.
"Maka ini adalah domestic engine of growth yang harus kita pacu. Nah sektor ini tentu mempunyai paradigma baru untuk memperkuat kompetensi SDM, kemudian kualitas destinasi, serta aksesibilitas daripada tujuan pariwisata," ungkapnya.
Rekor Capaian Devisa Pariwisata
Rakornas Pariwisata 2026 di Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (20/5/2026). (Muhammad Lugas Pribady/detikcom) |
Menyambung hal tersebut, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan bahwa di tahun lalu devisa pariwisata mencatatkan angka tertinggi dalam sejarah, sebesar Rp 305,47 triliun. Bukan cuma itu perjalanan wisnus di tahun lalu juga mencatatkan hal yang positif, meningkat 17,6%.
"Capaian devisa pariwisata menembus angka 18,27 miliar USD atau setara dengan Rp 305,47 triliun. Dalam segi perjalanan wisatawan Nusantara tahun 2025 mencatat 1,2 miliar perjalanan yang tumbuh 17,6 persen dibandingkan tahun 2024," kata Widi.
Widi menyampaikan dengan capaian tersebut harapannya mampu menjadi tren positif di kemudian waktu. Mengingat situasi global saat ini yang masih abu-abu, mulai dari geopolitik, tekanan ekonomi hingga perubahan perilaku wisatawan.
"Jadi situasi ini tidak hanya menuntut kita untuk mampu bertahan tetapi juga bertransformasi secara tangguh dan adaptif," jelasnya.
(upd/wsw)













































Komentar Terbanyak
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
Ribuan Vila Terancam Delisting, Pemerintah Tegaskan Bukan Mempersulit Usaha