Antropolog dari Royal Tropical Institute Belanda, Clementine HenriΓ«tte Marie Nooy-Palm, dalam bukunya Oude Kunst van de Minahasa (Ancient Arts of the Minahasa) yang terbit pada 1958, menyebut kain bentenan sebagai kain sakral dan langka asal Minahasa.
Kain ini hanya digunakan oleh para pemimpin adat (tonaas) dan pemimpin agama (walian) dalam berbagai upacara adat seperti upacara membangun rumah, menentukan masa tanam, sampai berperang.
Kain tenun ini juga digunakan dalam berbagai upacara daur hidup sebagai kain pembungkus bayi yang baru lahir, bagian dari upacara pernikahan, untuk membungkus mayat yang dikuburkan dalam waruga. Walian dan Tonaas akan memohon perlindungan pada Opo-Opo (dewa) dengan membaca mantra khusus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kain ini dibuat dengan teknik ikat yang rumit, dimulai dari pemintalan benang, pengikatan dan pewarnaan benang, lalu penjemuran. Selanjutnya kain akan ditenun tanpa terputus sampai berbentuk silinder (sarung) dengan alat tenun tradisional.
Penenun akan melantunkan lagu 'Ruata' yang berarti Tuhan agar mereka dapat menghasilkan kain tenun yang indah.
Kain tenun ini disebut juga 'Pasolongan Rinegetan', karena berbentuk 'pasolongan' (bundar seperti sarung dan tanpa sambungan/jahitan) yang di bagian paling bawah kain digantung lonceng-lonceng kecil yang diberi nama 'reget'.
Pada masa kolonial Belanda, kain ini pernah hilang, tidak diproduksi lagi, pengaruh agama Kristen yang dibawa para misionaris Belanda, lambat laun upacara dan berbagai ritual adat ditinggalkan, dianggap kuno, Masyarakat Minahasa memilih pakaian Eropa seperti orang Belanda.
Saat ini sudah ada upaya dari masyarakat Minahasa, khususnya para perajin dan desainer setempat, untuk kembali mempopulerkan kain tenun bentenan.
---
Hari Suroto
Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara












































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar