Wisatawan Dimudahkan Rencanakan Liburan Pakai AI, Algoritma Jadi Tantangan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wisatawan Dimudahkan Rencanakan Liburan Pakai AI, Algoritma Jadi Tantangan

Antara - detikTravel
Sabtu, 06 Jun 2026 15:10 WIB
Ilustrasi liburan
Ilustrasi liburan (Shutterstock)
Jakarta -

Teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memang memudahkan wisatawan untuk merencanakan liburan, tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Tren Artificial Intelligence (AI) atau akal imitasi bisa mengubah lanskap sektor pariwisata karena dapat mempermudah wisatawan dalam menyusun perencanaan perjalanan berwisata.

Dengan kehadiran AI, wisatawan tidak perlu lagi mencari informasi dalam jumlah banyak, karena AI sudah bisa menyajikan informasi yang diperlukan hanya dengan menggunakan kata kunci atau prompt yang tepat saja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Trennya apa sekarang? Orang yang mengklik itu sukanya apa? Destinasi-destinasi mana yang disukai oleh mereka misalnya. Makanya mereka akan mencari dengan bantuan AI," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam temu media di Jakarta.

Made mengatakan wisatawan pada masa kini lebih menyukai perjalanan yang lebih fleksibel. Namun, dalam perjalanannya terkadang sulit untuk menentukan destinasi atau kegiatan apa yang ingin dicoba untuk dikunjungi.

ADVERTISEMENT

Made mencontohkan dalam ekosistem pariwisata AI dapat mengingat segala bentuk perilaku wisatawan hanya dari informasi yang dicari saja.

"Jadi misalnya rekan-rekan minum di hotel atau resort, dulu ada butler sekarang dikasih aplikasi. Mau makan apa, dia sudah tahu karena ada track record kita di hotel A, B, C. Akhirnya kalau pagi, dia (AI) sudah tahu saya suka kopi hitam, dia tidak akan merekomendasikan untuk menyajikan cappuccino," kata dia.

Untuk merespon perubahan perilaku wisatawan, Kementerian Pariwisata mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional melalui teknologi yang adaptif, cerdas, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.

Platform ini dapat diakses melalui indonesia.travel dan menjadi wajah baru transformasi digital pariwisata Indonesia. MaiA juga sesuai dengan program Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi untuk menyasar target pasar dengan lebih efektif.

"Dengan dukungan teknologi AI, indonesia.travel dapat bertransformasi menjadi website one-stop travel solution to Indonesia yang berperan sebagai asisten perjalanan cerdas, personal,responsif dan praktis," kata Made.

MaiA akan mendampingi wisatawan di setiap tahap perjalanan, mulai dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing) hingga berbagi pengalaman (sharing).

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, menilai masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma. Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna.

"Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka," kata Apni.

Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya memilih, tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi algoritma yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.

"Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital," lanjut Apni

Karena itu, tantangan sektor pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kepercayaan di tengah banjir informasi. Manusia menjadi faktor kunci. Kecerdasan buatan memang mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia, tapi manusia punya kontrol atas itu.

"Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya," tegas Apni.




(wsw/wsw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads