Mulai bulan Juli mendatang, para wisatawan yang berkunjung ke Katedral Cologne Jerman, tidak lagi gratis. Waduh!
Pihak otoritas gereja baru saja mengumumkan bahwa pengunjung akan dikenakan biaya masuk sebesar Euro 12 (Rp 212.000).
Administrator Katedral, Clemens van de Ven, menjelaskan bahwa kebijakan ini terpaksa diambil karena situs warisan dunia UNESCO tersebut membutuhkan biaya operasional yang sangat besar, yakni mencapai Euro 44.000 atau sekitar Rp 778 juta per hari.
Lonjakan biaya ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan untuk pemeliharaan bangunan, sistem keamanan, dan operasional harian, seperti dikutip dari Anadolu, Selasa (9/6/2026).
Untuk mengantisipasi antrean, wisatawan disarankan membeli tiket lebih awal. Penjualan tiket secara online akan dibuka mulai 15 Juni, dan pemesanan bisa dilakukan hingga tiga bulan sebelum hari kunjungan. Bagi pengunjung yang tidak memiliki akses digital, tiket tetap bisa dibeli langsung di kantor katedral yang berada di dekat lokasi.
Berdasarkan aturan baru tersebut, pihak katedral memberikan pengecualian gratis bagi anak-anak berusia 13 tahun ke bawah, penyandang disabilitas berat, serta pendamping yang ditunjuk. Selain itu, tiket diskon seharga Euro 6 atau sekitar Rp106.000 juga disediakan untuk pelajar berusia 14 tahun ke atas, peserta magang, dan mahasiswa.
Meski demikian, para pimpinan gereja menegaskan bahwa akses masuk tetap gratis bagi jemaat yang ingin menghadiri kebaktian, berdoa secara pribadi, atau menyalakan lilin. Untuk memisahkan alur pengunjung, area pintu masuk khusus akan dibuat di dalam bangunan berasitektur Gotik monumental tersebut. Pihak katedral juga berencana membebaskan biaya masuk pada hari libur keagamaan tertentu dan acara khusus.
Pihak otoritas optimistis kebijakan baru ini tidak akan menurunkan minat wisatawan secara signifikan, di mana katedral ini biasanya sukses menyedot sekitar 6 juta pengunjung setiap tahunnya.
Menuai Kritik dari Mantan Arsitek Katedral
Walau dianggap sebagai solusi keuangan, keputusan ini memicu gelombang kritik di kota Cologne dan sekitarnya. Salah satu suara penolakan datang dari mantan arsitek Katedral Cologne sendiri, Barbara Schock-Werner.
"Kunjungan ke katedral seharusnya tidak hanya dimungkinkan bagi orang kaya," kata Schock-Werner kepada penyiar publik Jerman, WDR.
"Bagi saya, harus ada juga ruang yang bebas dari komersialisme," lanjutnya.
Schock-Werner menambahkan bahwa dirinya lebih mendukung model pendanaan alternatif untuk menutupi biaya operasional katedral yang tinggi, seperti melalui pembentukan yayasan mandiri atau penggalangan dana dukungan khusus daripada membebankannya langsung kepada pengunjung.
Baca juga: Kugembok Cintaku di Kota Cologne |
Simak Video "Video: Cobain Masakan Restoran Indonesia di Berlin"
(bnl/ddn)