Night Safari Singapura kehilangan salah satu satwa ikoniknya. Pasha, harimau putih bengal berusia 13 tahun, mati melalui prosedur eutanasia pada 1 Juli setelah berjuang melawan kanker.
Mandai Wildlife Group menjelaskan keputusan itu diambil karena kondisi Pasha terus memburuk dan tidak lagi merespons pengobatan.
"Setelah melalui pemeriksaan medis secara menyeluruh, tim memutuskan melakukan eutanasia secara manusiawi untuk mencegah penderitaan yang lebih besar," kata dokter hewan Mandai Wildlife Group, Trent Van Zanten, dikutip dari The Straits Times, Minggu (5/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasha yang telah memasuki usia senja sebelumnya menjalani perawatan jangka panjang akibat osteoartritis parah. Pada 2026, ia didiagnosis mengidap limfoma atau kanker kelenjar getah bening.
Tim dokter sempat memberikan berbagai perawatan untuk menjaga kualitas hidupnya, namun kondisinya terus menurun.
"Meski sempat menunjukkan kondisi yang stabil, kesehatan Pasha terus memburuk meski mendapat perawatan intensif," kata Van Zanten.
Pasha dan Keysa di Night Safari Singapura. (Mandai Wildlife Group) |
Pasha tiba di Singapura pada 2015 dari Batu Secret Zoo, Indonesia, bersama saudara betinanya, Keysa. Selama hidupnya, ia tidak memiliki keturunan.
Kurator Mandai Wildlife Group, Anand Kumar, mengenang Pasha sebagai harimau yang tenang dan memiliki ikatan erat dengan Keysa, sesuatu yang jarang ditemukan pada harimau yang umumnya hidup menyendiri.
"Setiap pagi ia menyapa kami dengan suara lembut seperti dengkuran kucing atau menggesekkan tubuhnya ke pagar saat kami mendekati kandangnya," ujar Kumar.
"Pasha telah menjadi bagian dari kehidupan kami selama bertahun-tahun. Mengucapkan selamat tinggal kepadanya sangat berat, ia akan sangat kami rindukan, dan kami akan terus memantau Keysa saat beradaptasi hidup tanpa saudaranya," kata dia.
Kini, Keysa menjadi satu-satunya harimau putih yang masih dirawat Mandai Wildlife Group. Pengelola juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan program konservasi harimau Malaya yang berstatus kritis melalui penangkaran dan edukasi publik.
(upd/fem)













































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica