×
Ad

Nepal yang Mulai Sunyi dari Turis

Bonauli - detikTravel
Senin, 14 Sep 2026 05:30 WIB
Foto: REUTERS/Tyrone Siu
Kathmandu -

Sudah jatuh tertimpa tangga, inilah yang sedang dihadapi oleh Nepal. Prakiraan tentang lumpuhnya pariwisata kini jadi kenyataan.

Dampak dari banjir bandang yang melanda Sungai Bhotekoshi mulai terasa di pariwisata Nepal. Pihak hotel melaporkan adanya gelombang pembatalan di musim puncak ini.

Dilaporkan oleh Kathmandu Post Senin (14/9/2026), hotel-hotel di Pokhara, Chitwan, dan Lumbini menyatakan bahwa mancanegara telah membatalkan pemesanan liburan mereka. Wisatawan domestik juga membatalkan rencana perjalanan mereka akibat kondisi jalan yang sulit dilalui.

Akibatnya, hotel-hotel di sejumlah destinasi wisata utama negara tersebut kini sepi pengunjung. Padahal periode ini biasanya jadi musim tersibuk dalam setahun.

Sebagai contoh, kawasan Sauraha di Chitwan biasanya dipadati wisatawan pada musim ini. Sauraha memiliki 125 hotel, baik kecil maupun besar, dengan kapasitas gabungan untuk menampung 8.000 wisatawan per hari.

Namun tahun ini, hanya segelintir wisatawan yang terlihat di destinasi wisata alam hutan tersebut. Asosiasi Hotel Regional menyatakan bahwa tingkat hunian hotel telah merosot hingga di bawah 5 persen.

"Saat ini hampir tidak ada wisatawan. Tingkat hunian hotel berada di bawah 5 persen," ujar Suman Ghimire, mantan ketua Asosiasi Hotel Regional Sauraha.

Jungle Safari Lodge milik Ghimire memiliki 34 kamar. Namun, setelah adanya pembatalan pemesanan, sebagian besar kamar kini kosong. Wisatawan telah menghentikan perjalanan darat ke Chitwan setelah ruas jalan raya Krishnabhir hanyut diterjang banjir.

Meskipun banjir Bhotekoshi tidak menyebabkan kerusakan di Chitwan, Ghimire mengatakan destinasi tersebut tetap terdampak karena pemberitaan negatif mengenai Nepal telah menyebar melalui berbagai imbauan perjalanan.

Hal yang sama juga dialami oleh Royal Tulip Chitwan Hotel, yang dikelola oleh KTM Hospitality. Akomodasi yang memiliki 65 kamar itu telah menerima pembatalan sebanyak 80 persen.

"Sektor pariwisata sangat terpukul oleh banjir. Meskipun destinasi wisatanya sendiri tidak terdampak banjir, rumor dan laporan yang menyesatkan mengenai situasi tersebut telah memberikan dampak yang signifikan," ucap Rameshwar Sah, ketua Royal Tulip.

Gunaraj Thapaliya, wakil ketua Asosiasi Hotel Regional, mengatakan bahwa dampak tersebut sangat terasa di Sauraha.

"Kecuali segelintir wisatawan China, saat ini tidak ada pengunjung di Sauraha," ujarnya.

Pokhara, kota wisata di distrik Kaski, juga tidak luput dari dampak tersebut.

Hari Bhujel, ketua Dewan Pariwisata, mengatakan bahwa banjir Bhotekoshi dan kerusakan pada Jalan Raya Prithvi di Krishnabhir telah menambah tantangan yang dihadapi sektor pariwisata di Pokhara.

"Musim wisata bagi pengunjung asing sudah dimulai.Namun, saat ini hingga 30 persen pemesanan hotel telah dibatalkan," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa penutupan Jalan Raya Prithvi, kenaikan harga tiket pesawat, keterbatasan penerbangan antara Pokhara dan Kathmandu, serta penerapan tarif dalam mata uang dolar bagi wisatawan asing secara langsung memengaruhi pariwisata di Pokhara.

Terminal bus wisata di Mustang Chowk, Pokhara, yang biasanya ramai dengan arus penumpang dari pagi hingga malam kini tampak sepi. Dulu, dua puluh empat bus berangkat dari terminal bus menuju Kathmandu pada pagi hari dan delapan bus pada malam hari. Saat ini, hanya bus wisata dengan tujuan Chitwan dan Lumbini yang beroperasi.

Lumbini, kota yang menjadi tempat kelahiran Buddha, juga mulai mengalami penurunan jumlah wisatawan.

Lilamani Sharma, ketua Asosiasi Hotel Lumbini, mengatakan bahwa wisatawan mancanegara yang bepergian ke Lumbini melalui Kathmandu telah membatalkan pemesanan hotel mereka. Pemesanan untuk musim ramai kunjungan pada bulan Oktober-November juga turut dibatalkan.

"Banjir Bhotekoshi telah menimbulkan kesan negatif bahwa seluruh negeri sedang diliputi ketakutan dan kesulitan. Oleh karena itu, kita harus meyakinkan masyarakat internasional bahwa Lumbini aman dan dapat diakses," ujar kata Himal Upreti, penjabat sekretaris anggota Lumbini Development Trust (LDT), sebuah lembaga pemerintah yang mengelola situs bersejarah Nepal.



Simak Video "Video: Seminggu Setelah Banjir Mematikan Nepal yang Tewaskan Ribuan Orang"

(bnl/ddn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork