Turis-turis Mulai Cancel Nepal

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Turis-turis Mulai Cancel Nepal

Bonauli - detikTravel
Senin, 07 Sep 2026 21:11 WIB
Pendakian Mount Everest
Turis di Nepal (Site News)
Kathmandu -

Bencana yang menimpa Nepal membuat pariwisatanya porak-poranda. Wisata pegunungan yang dulu jaya, mulai menghadapi kenyataan pahit.

"Dalam beberapa hari terakhir, wisatawan telah membatalkan pemesanan tepat saat Nepal memasuki musim wisata paling ramai, dari 15 September hingga 15 November," ujar Saroj Bhandari, pemilik hostel Wander Thirst di ibu kota Kathmandu, yang berjarak lebih dari lima jam perjalanan darat dari lokasi banjir kepada CNBC dikutip, Senin (7/9/2026).

Bhandari memperkirakan bahwa dalam skenario terbaik, tingkat keterisian hostelnya yang memiliki 122 tempat tidur hanya akan mencapai 60% selama puncak musim wisata tahun ini, turun dari 100% pada tahun lalu. Sebagian besar pembatalan datang dari wisatawan Eropa, katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kali ini hanya sebagian kecil wilayah Nepal yang terdampak banjir, namun banyak wisatawan menganggap berkunjung ke Nepal tidak aman karenanya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Dalam segala harapan, ia berharap turis tetap datang karena wilayah negara itu tidak hanya terdiri dari pegunungan tetapi juga dataran rendah.

Rajendra Bahadur Lama, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pendaki Gunung Nepal (Nepal Mountaineering Association), menyebut banjir tersebut sebagai peringatan serius bagi industri pariwisata Nepal.

"Bencana ini tidak boleh dipandang sebagai akhir dari wisata petualangan Nepal; ini harus menjadi panggilan untuk sadar dan bertindak," ujar Lama kepada CNBC.

Lama berkata bahwa perubahan iklim sedang mengubah wajah Himalaya. Nepal kini harus membangun industri pariwisata yang tidak hanya menawarkan petualangan, tetapi juga lebih aman, lebih cerdas, dan tangguh terhadap iklim.

Infrastruktur, rute, dan destinasi wisata perlu dikaji ulang dan dirancang kembali dengan perlindungan yang lebih baik terhadap banjir, tanah longsor, dan peristiwa ekstrem lainnya, kata Lama.

"Wisatawan mancanegara kini semakin sadar akan isu perubahan iklim dan faktor keselamatan," tambahnya.

Untuk bangkit kembali dari bencana ini, Nepal diperkirakan membutuhkan biaya antara US$ 4-5 miliar (Rp 88 triliun), jumlah yang setara dengan hampir sepersepuluh dari total perekonomian negara tersebut.

Industri pariwisata merupakan pilar utama perekonomian Nepal serta sumber devisa dan pendapatan yang sangat penting. Negara dengan populasi hampir 30 juta jiwa ini dikenal luas di dunia sebagai pusat kegiatan trekking, pendakian gunung, sekaligus destinasi global utama untuk wisata spiritual.



(bnl/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads