Ternyata ada banyak wisatawan yang meninggalkan koper bekas mereka saat liburan di Jepang. Tren ini menjadi masalah baru bagi negeri Sakura.
Tren yang berkembang di kalangan turis asing yang liburan ke Jepang adalah meninggalkan koper lama dan rusak mereka di hotel, kemudian membeli koper baru untuk menggantikannya.
Masalahnya, makin banyak turis yang melakukan hal tersebut. Hotel-hotel di Jepang mulai kewalahan dengan koper-koper yang ditinggalkan begitu saja oleh wisatawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampah koper pun makin menggunung di Jepang. Bandara Chubu di Prefektur Aichi mencatat ada puluhan kasus koper tak bertuan yang ditinggalkan pemiliknya di sana.
Apa yang Bisa Dilakukan Turis?
Dilansir dari Unseen Jepang, Selasa (15/9/2026), koper termasuk dalam sampah yang berukuran ekstra besar atau istilah dalam bahasa Jepang: sodai gomi. Di setiap kota, mereka punya sistem tersendiri untuk mengatasi sampah yang oversized tersebut.
Untuk mengangkut sampah seperti ini, biasanya kalian harus mendaftar dan mengisi data diri terlebih dahulu untuk dilakukan proses penjemputan oleh petugas.
Kemudian, pergi ke konbini atau minimarket untuk membeli stiker yang akan ditempel ke koper yang akan dibuang tersebut. Harga satu stikernya berkisar 400-700 Yen.
Selanjutnya, traveler tinggal meletakkan koper yang akan dibuang tersebut ke titik penjemputan yang sudah ditentukan. Setelah itu, petugas yang akan menjemput dan mengurus koper tersebut.
Opsi berikutnya yang bisa dicoba adalah bertanya ke staff hotel atau bandara apabila mereka punya layanan untuk membuang koper bekas dan rusak. Biayanya sekitar 1.200 Yen per koper.
Beberapa pakar perjalanan menyarankan alih-alih membuang, jika kerusakan pada koper masih minor, maka traveler bisa memperbaiki sendiri kerusakan tersebut. Di Jepang ada banyak toko untuk servis koper. Daripada dibuang dan melahirkan masalah baru, lebih baik diperbaiki.
Saat membeli koper baru, wisatawan juga bisa bertanya ke petugas toko apakah mereka bisa membantu untuk mendaur ulang koper yang lama. Banyak toko di kawasan Shinsaibashi yang bisa membantu dengan biaya 500 Yen.
Selain itu, beberapa jenama seperti Samsonite bahkan punya program tukar koper atau Luggage Trade-In. Traveler bisa menukarkan koper bekas untuk mendapatkan potongan harga hingga 50% untuk koleksi HI-FI serta 40% khusus untuk koleksi Octolite Neo dan Modio.
"Memperbarui perlengkapan perjalanan tidak harus mengakhiri nilai dari koper yang telah menemani berbagai perjalanan sebelumnya. Melalui Luggage Trade-In, kami ingin memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan berikutnya, sekaligus memastikan koper preloved dapat dikelola kembali untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas," kata Nadya Pertiwi, Country Head Samsonite Indonesia.
Tahun ini, koper-koper bekas milik traveler akan didaur ulang menjadi Breathable Classroom. Inisiatif tersebut dirancang untuk memanfaatkan kembali koper bekas sebagai bagian dari sistem jendela sekolah untuk menciptakan ruang belajar yang lebih nyaman di tengah paparan polusi udara.
"Luggage Trade-In bukan sekadar program pergantian koper, tetapi cara mengubah partisipasi pelanggan menjadi manfaat nyata bagi komunitas yang membutuhkan. Kami ingin memastikan setiap inisiatif memiliki tujuan, proses, dan hasil yang jelas sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat," tutup Nadya.










































