Masalembo, 'Segitiga Bermuda Nusantara' yang Jadi Lokasi Kecelakaan KM Virgo

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Masalembo, 'Segitiga Bermuda Nusantara' yang Jadi Lokasi Kecelakaan KM Virgo

Bonauli - detikTravel
Jumat, 25 Sep 2026 06:52 WIB
KM Virgo Transport 8 karam di perairan Masalembo, Laut Jawa, Kamis (17/9/2026). Pada hari keempat operasi SAR, TNI AL melakukan pemetaan dan penyisiran di sekitar bangkai KM Virgo Transport 8 melalui udara dan bawah laut dengan menerjunkan penyelam s
Foto: ANTARA FOTO/Rizal Hanafi
Jakarta -

Nama Masalembo lagi-lagi viral karena menjadi lokasi kecelakaan dari KM Virgo. Penuh misteri, Masalembo kerap disebut sebagai Segitiga Bermuda Nusantara.

Berada di antara Laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores, Masalembo masuk dalam wilayah administrasi Sumenep, Jawa Timur. Sejumlah tragedi kapal tenggelam menjadikan Masalembo sebagai titik yang penuh misteri.

Berbicara kepada detikTravel, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr.-Ing. Widodo S. Pranowo, S.T., M.Si. menjelaskan tanggapannya terhadap kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Masalembo pada 13 September 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang berbahaya di Masalembo bukan tinggi gelombangnya, melainkan iramanya, atau dalam bahasa ilmiahnya adalah periode gelombang," ucapnya.

Masalembo memiliki laut dangkal, yang membuat gelombangnya pendek tetapi curam. Gelombang itu datang berulang setiap lima sampai enam detik.

ADVERTISEMENT
Perairan Masalembo di Laut Jawa.Perairan Masalembo di Laut Jawa. Foto: Google Maps

Kapal tidak sempat kembali tegak, namun gelombang terus menghantam lambungnya. Tambahkan arus pasang surut yang kuat, pertemuan gelombang dari beberapa arah sekaligus, awan badai yang tumbuh cepat pada malam hari, dan jarak yang jauh dari pelabuhan mana pun, lengkaplah kombinasi mematikan di laut Masalembo.

"Selain faktor alam, kita juga harus memperhatikan perbandingan antara tinggi kapal dengan tinggi gelombang, dan panjang kapal dengan panjang gelombang," ungkapnya.

Menurut teori, jika panjang kapal melebihi tingi gelombang, dan panjang kapal melebihi panjang gelombang, maka secara teoritis seharusnya kapal bisa aman membelah gelombang tersebut.

Ini saya tidak bicara terkait kondisi kapal dan beban muatan yang diangkut. Artinya jika ada kecelakaan kapal di laut, gelombang laut dan cuaca bukan sebagai faktor tunggal penyebab kecelakaan tersebut.

Faktor oseanografi menjadi salah satu yang harus diwaspadai di Masalembo. Kombinasi kedalaman laut membuat pergerakan gelombang bervariasi.

"Dasar laut yang dalam bisa tiba-tiba drastis mendangkal, ini bisa membuat panjang gelombang memendek dan frekuensinya meningkat, jelas pengajar Program Studi Pascasarjana Magister (S2) Hidro-Oseanografi di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) itu.

Evakuasi Satu Jenazah Korban KM VirgoEvakuasi Satu Jenazah Korban KM Virgo Foto: Istimewa

Masalembo merupakan wilayah persimpangan antara Laut Bali, Laut Jawa, Selat Lombok, Laut Flores dan Selat Makassar. Ketika Juni - Agustus, bersamaan dengan angin musim timur, ada aliran massa air dari Samudra Pasifik yang menuju ke Samudra Hindia, melewati selat Makassar, dan sebagian ada yang berbelok menuju ke laut jawa di kedalaman tertentu.

Debit aliran massa air tersebut, ketika melewati Selat Makassar bisa sebanyak 11,6 juta meter kubik per detik. Jika seperempatnya saja ada yang belok ke Laut Jawa, alirannya masih sangat banyak.

"Satu lagi, interaksi arus tersebut dengan pasang surut, menyebabkan kompleksnya oseanografi di Masalembo," ungkap Anggota Dewan Penasihat Ilmiah di Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation & Research Center (MTCRC) itu.

Di musim angin barat yang membawa curah hujan, potensi angin lebih kencang dan Masalembo akan semakin berbahaya. Namun, kecelakaan KM Virgo terjadi pada bulan September.

"Berdasarkan citra satelit himawari dan radar, kondisi angkasa di atas Laut Jawa pada saat itu cerah tanpa awan, bisa dikatakan tidak ada cuaca buruk, namun lebih lengkapnya bisa diklarifikasikan kepada BMKG," jelasnya.

Menurut hasil analisisnya, kecelakaan dapat terjadi pada kondisi gelombang yang tergolong sedang. Syaratnya, apabila kestabilan kapal tidak memadai. Ini mengapa, peringatan dini gelombang tinggi saja tidak cukup.

"Yang dibutuhkan adalah peringatan berbasis risiko kapal, bukan sekadar berbasis tinggi gelombang, dan pemeriksaan muatan yang sungguh-sungguh sebelum kapal di lepas berlayar," terangnya.

Kapal tidak terbalik hanya karena angka tinggi gelombang saja, namun kapal terbalik karena hubungan antara gelombang, arah haluannya, kecepatannya, dan kondisi muatannya. Jika ada dua kapal yang berlayar di kondisi gelombang yang sama persis, belum tentu nasibnya sama.

Korban Selamat KM Virgo Transport 8

Berdasarkan data terbaru dari Basarnas dan Tim SAR Gabungan, jumlah korban yang selamat berjumlah 108 orang, 12 orang meninggal dan 123 orang masih dalam pencarian.

Widodo menjelaskan bahwa laut bekerja lewat tiga jalan sekaligus pada penumpang, yaitu memindahkan, menguras tenaga, dan menyembunyikan mereka dari pandangan penolong.

"Simulasi kami menunjukkan bahwa orang yang terapung di lokasi itu hanyut sekitar 15 mil laut dalam 24 jam ke arah barat laut. Sekelompok orang yang jatuh di titik yang sama pada detik yang sama akan tercerai-berai puluhan mil dalam sehari, hanya karena sebagian mengapung lebih tinggi daripada yang lain," jelasnya.

Basarnas Kembali Temukan 1 Korban Meninggal KM Virgo Siang IniBasarnas Kembali Temukan 1 Korban Meninggal KM Virgo Siang Ini Foto: Dok. Istimewa

Orang yang mengapung akan terbawa ke arah barat sampai barat laut, yakni menjauhi Pulau Masalembo, menuju bagian tengah Laut Jawa yang lebih terbuka. Arus total di sana rata-rata 0,30 meter per detik, sesekali mencapai 0,54 meter per detik, atau sekitar satu knot.

Seorang perenang yang sangat bugar sekalipun hanya sanggup mempertahankan sekitar setengah knot dalam waktu singkat. Artinya, melawan arus adalah usaha yang pasti kalah. Yang harus dilakukan saat terlempar ke laut adalah menghemat tenaga, tetap mengapung, dan tetap terlihat.

Jika ada dua orang penyintas yang mengapung, keduanya berangkat dari titik yang sama, pada detik yang sama, di laut yang sama. Yang membedakan hanya satu hal, seberapa tinggi tubuh mengapung.

Hal lain yang membuat korban selamat adalah hanyutan Stokes, yaitu dorongan ke depan yang diberikan oleh gelombang itu sendiri kepada benda di lapisan paling atas air. Orang yang lebih terendam tidak merasakan dorongan itu sepenuhnya.

Akibatnya, setelah 24 jam keduanya sudah terpisah sejauh 6,4 mil laut, dan setelah 72 jam terpisah 17,9 mil laut. Inilah sebabnya penyintas sebuah kecelakaan laut hampir tidak pernah ditemukan berkumpul, melainkan tersebar memanjang mengikuti satu garis hanyutan.

"Inilah sebabnya orang yang ditemukan paling jauh dari bangkai kapal belum tentu orang yang paling lama bertahan, bisa jadi ia hanya kebetulan mengapung paling tinggi," analisisnya.

Simak Video 'Basarnas Ungkap Pengangkatan Kapal Virgo Paling Cepat Dalam 3 Bulan':

(bnl/ddn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads