Bangunan Cagar Budaya Bisa Dioptimalkan Jadi Daya Tarik Wisata

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bangunan Cagar Budaya Bisa Dioptimalkan Jadi Daya Tarik Wisata

Antara - detikTravel
Sabtu, 26 Sep 2026 13:03 WIB
Stasiun Kereta Api Binjai
Stasiun Kereta Api Binjai (Dok. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut)
Jakarta -

Bangunan cagar budaya tak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tapi juga menjadi daya tarik untuk menarik wisatawan berkualitas.

Pelestarian bangunan bersejarah tak hanya untuk mempertahankan nilai sejarahnya, tapi juga untuk edukasi dan menarik wisatawan. Saat ini, pengelolaan cagar budaya berada di bawah Indonesia Heritage Agency (IHA) atau Museum dan Cagar Budaya (MCB), badan resmi pemerintah di bawah Kementerian Kebudayaan.

Menurut Rizki Ayu Ramadhana, Penanggung Jawab Pengembangan Bisnis, Pemasaran, dan Pemanfaatan Akses Museum dan Cagar Budaya (MCB), saat ini MCB diserahi wewenang mengelola 17 museum dan 20 cagar budaya di berbagai tempat di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami punya aset cukup banyak. Kita punya, kalau di Museum Nasional, 198.000 koleksi. Yang mana sebenarnya itu sangat potensial sekali kalau mau satu per satu digali, diangkat narasinya, kemudian diviralkan," ujar Rizki dalam acara Indonesia Tourism and MICE Outlook (ITMO) 2027 bertajuk Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Experience Tourism di Artotel Mangkuluhur Suites Jakarta, Kamis (24/9).

Menurut Rizki, Indonesia memiliki aset budaya yang sangat besar, tetapi diperlukan kolaborasi untuk mengaktifkan aset tersebut agar dapat menjadi pengalaman bagi masyarakat dan wisatawan.

ADVERTISEMENT

Aset tersebut dapat menjadi experience melalui narasi, interpretasi, edukasi, teknologi, serta interaksi dengan publik. Saat ini, museum tidak lagi hanya diposisikan sebagai tempat menyimpan atau memamerkan koleksi.

Berbagai aktivitas wisata yang menarik mulai dikembangkan, seperti walking tour, jelajah arkeologi, yoga di kawasan heritage, museum sleepover, immersive experience, hingga kegiatan MICE.

Museum juga dapat menerjemahkan koleksi mereka menjadi merchandise dan produk kreatif yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk generasi muda. Museum dan Cagar Budaya pun menggandeng seniman, ilustrator, brand, serta komunitas untuk mengembangkan berbagai produk.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar aset budaya. Namun pemanfaatan aset museum harus tetap berada dalam kerangka pelestarian.

ITMO 2027ITMO 2027 Foto: (dok. Istimewa)

Penerimaan dari berbagai aktivitas dan pemanfaatan aset pada akhirnya kembali mendukung usaha konservasi, serta pemeliharaan museum dan cagar budaya

"Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus kolaborasi. Kita punya aset, koleksi, situs dan lain-lain. Kami butuh partner kolaborasi untuk mengaktivasinya," kata dia.

CEO Werkudara Group Fadli Fahmi Ali menambahkan, aset seperti bangunan cagar budaya tidak otomatis akan berubah menjadi pengalaman buat wisatawan. Kita harus melihat cerita di balik sebuah aset, siapa yang terlibat, bagaimana sejarahnya, apa maknanya, kemudian merancang aktivitas yang memungkinkan wisatawan merasakan cerita tersebut.

"Jadi, kekayaan atau aset itu nggak otomatis menjadi value. Nilai itu muncul ketika memang kita merancangnya untuk bisa dialami atau di-experience," ujar Fadli.

Proses mengubah aset menjadi pengalaman wisata harus melalui tahapan story, activity, experience, hingga menjadi product. Sebuah aktivitas baru dapat menjadi experience ketika wisatawan benar-benar merasakan sesuatu dari aktivitas tersebut.

Setelah menjadi experience, prosesnya masih berlanjut. Pengalaman harus dikembangkan dengan disiplin komersial, standardisasi, dan pemahaman terhadap pasar agar dapat menjadi produk wisata yang dapat dijual.

Kekayaan budaya Indonesia yang melimpah rupanya masih belum dimanfaatkan dengan baik oleh para pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ni Made Ayu Marthini pun mendorong agar pelaku pariwisata membuat paket wisata yang lebih menarik. Salah satunya memanfaatkan tren walking tourism yang berkembang luas.

"Walking tour itu bagus sekali dan itu menjadi tren sekarang. Misalnya kita bisa padukan art and culture, wastra tourism, marine tourism, dengan walking tour ini, Indonesia akan sangat menarik dan experience-nya dapat. Semakin kreatif, semakin menarik, semakin berbeda, itu yang dicari oleh wisatawan sekarang," tutur Made.

Keuntungan lain yang didapatkan lewat paket wisata yang variatif tersebut adalah mencegah terjadinya mass tourism. Itu karena wisatawan bisa terpecah ke berbagai destinasi, bukan menumpuk di satu destinasi tertentu.



(wsw/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads