Pemantauan terhadap titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah padam tetap dilakukan dengan menggunakan drone.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan bahwa patroli tersebut dilakukan oleh tim petugas gabungan dengan memanfaatkan teknologi drone atau pesawat nirawak dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
"Berdasarkan pemantauan menggunakan pesawat drone milik BPPTKG, luas kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi yang terbakar periode 22-24 September mencapai sekitar 59,5 hektare," kata Berton seperti dikutip Antara, Sabtu (26/9/2026).
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan bahwa kebakaran yang melanda kawasan konservasi tersebut mulai terjadi pada Selasa (22/9) dan membakar vegetasi berupa semak rumput serta pohon pinus.
Dari hasil pengawasan udara menggunakan drone yang diterima BNPB, menyatakan sebagian besar titik api utama di lokasi kejadian telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan hingga Kamis (24/9) malam.
BNPB belum melaporkan secara rinci apa penyebab kebakaran termasuk bagaimana proses tindak lanjut dari kebakaran tersebut apakah juga dilangsungkan proses penyelidikan oleh aparat penegak hukum atau tidak.
Namun menurut Berton, petugas gabungan akan terus melaksanakan patroli, penyisiran dan pemantauan guna mengantisipasi kemunculan titik api baru akibat angin atau cuaca kering.
"Tim gabungan masih melakukan pemantauan dan patroli untuk memastikan tidak terdapat titik api baru mengingat masih terdapat bara di sejumlah lokasi," ujarnya.
Dalam banyak kesempatan, pihak BNPB serta aparat pemerintah setempat terus mengingatkan kepada masyarakat, serta para pengelola kawasan wisata di Gunung Merapi untuk memastikan tidak ada aktivitas yang menyulut kebakaran termasuk membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api unggun guna mencegah potensi kebakaran susulan.
Simak Video "Video: Jumlah Hotspot Nasional Turun Jadi 567 Titik, Kalteng Tertinggi"
(wsw/wsw)