Antrean BBM Bikin Bali Macet, ASITA: Belum Ada Pembatalan Wisata, tapi...

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Antrean BBM Bikin Bali Macet, ASITA: Belum Ada Pembatalan Wisata, tapi...

Femi Diah - detikTravel
Sabtu, 17 Okt 2026 09:09 WIB
Motorcyclists queue to refuel at state-own petrol station Pertamina amid fuel supply shortage in Badung, Bali, Indonesia, October 15, 2026. REUTERS/Johannes Christo
Antrean BBM di Badung, Bal. (REUTERS/Johannes Christo)
Denpasar -

Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai berdampak pada perjalanan wisatawan. Meski demikian, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali menyebut belum ada pembatalan kunjungan akibat kemacetan yang terjadi di sejumlah titik karena antrean panjang di SPBU.

Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra mengatakan biro perjalanan kini harus menyesuaikan rencana perjalanan dengan kondisi lalu lintas. Wisatawan yang sudah berada di Bali, misalnya, diarahkan ke destinasi yang lebih dekat dan tidak terlalu padat.

"Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya," kata Winastra saat ditemui di Jimbaran, Kabupaten Badung, dikutip dari Antara, Sabtu (17/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Winastra, kemacetan menjadi tantangan tersendiri bagi biro perjalanan, terutama ketika harus mengatur jadwal tur menggunakan kendaraan kecil seperti mobil van.

ADVERTISEMENT

Sejumlah rute perjalanan pun terpaksa diubah. Wisatawan yang sebelumnya dijadwalkan berkunjung ke Tanah Lot, misalnya, dapat dialihkan ke destinasi lain yang lokasinya lebih dekat agar agenda liburan tetap berjalan.

"Kegiatan sudah terjadwal karena ini kan tidak berpengaruh kepada pesawat ya, cuma ada di Bali saja. Perubahan tur ada yang tadinya ke Tanah Lot karena macet, dia berubah ke tempat yang lebih dekat dan sebagainya," ujarnya.

Winastra mengatakan biro perjalanan juga menjelaskan kondisi lalu lintas kepada wisatawan secara terbuka. Sejauh ini, wisatawan disebut dapat memahami situasi sehingga perubahan rencana perjalanan tidak sampai membuat seluruh agenda liburan dibatalkan.

Namun, persoalan lalu lintas ini tetap menjadi perhatian. Menurut Winastra, antrean kendaraan di sekitar SPBU bahkan sempat membuat anggota ASITA kesulitan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi masalah apabila kemacetan berlangsung terlalu lama. Sebab, perjalanan darat yang terhambat bukan hanya dapat mengacaukan jadwal tur, tetapi juga berisiko membuat wisatawan terlambat menuju bandara.

"Harapan kami adalah ruas jalan yang memang dipakai untuk berjalan ke tempat-tempat yang misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang," katanya.

Karena itu, Winastra berharap persoalan antrean BBM dan kemacetan dapat segera ditangani. Ia menilai sulit memperkirakan dampaknya terhadap kunjungan wisatawan jika kondisi tersebut terus berlanjut.

Apabila situasi berlangsung semakin lama dan memenuhi kriteria tertentu, ASITA juga akan menjelaskan kepada mitra perjalanan di luar negeri bahwa kondisi tersebut berada di luar kendali pelaku usaha atau force majeure.

"Harapannya, hal ini jangan sampai terlalu lama agar kita juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini adalah force majeure," ujarnya.

Winastra menegaskan kelancaran akses merupakan bagian penting dalam menjaga kenyamanan wisatawan. Menurutnya, daya tarik destinasi saja tidak cukup jika wisatawan menghadapi kendala transportasi selama berada di Bali.

Ia berharap penanganan kemacetan segera dilakukan sehingga aktivitas wisata tetap berjalan dan kepercayaan wisatawan terhadap Bali tidak terganggu.



(fem/fem)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads