Mengunjungi Desa Pariangan merupakan sebuah paket wisata lengkap yang bisa dilakukan di Sumatra Barat. Karena terletak di lereng Gunung Merapi, maka tidak heran jika Desa Pariangan memiliki objek wisata alam yaitu tempat pemandian air panas, yang oleh penduduk asli digunakan untuk mereka mandi sehari hari. Β Selain itu, kita juga bisa melakukan wisata budaya sekaligus wisata sejarah disana.Β
Konon katanya, desa ini merupakan asal usul etsnis Minangkabau yang berarti menjadikan Pariangan sebagai desa tertua di ranah Minang. Sebagain orang menyebut desa ini sebagai nagari tuo. Itu bisa saya lihat ketika berkunjung kesana sore tadi (28/9). Baru turun dari mobil, dihadapan saya terbentang pemukiman adat yang berundak undak. Hampir semua atap rumahnya bergonjong dan berdinding kayu. Pemadangan yang mulai sulit ditemui di Kota Padang. Lalu saya mulai memasuki desa dengan menuruni tangga yang membawa saya ke lebih banyak lagi rumah rumah adat yang masih berdiri kokoh di sana. Tangga yang saya lalui membawa saya ke lapangan kecil di hadapan Masjid Ishlah yang menjadi pusat dari desa ini. Di sebelah kiri masjid, terdapat Kantor PKK yang di bawahnya terdapat tempat pemandian wanita. Sedangkan di seberangnya adalah tempat pemandian laki laki.
Saya penasaran, seperti apa tempat pemandian air panas ini. Apakah berbentuk kolam seperti yang biasa saya lihat di daerah Ciater Jawa Barat? Β Di luar dugaan saya, tempat pemandian wanita yang saya masuki kali ini berbentuk memanjang dengan pancuran air di setiap sisi seperti tempat berwudhu. Β Di setiap kolom, terdapat dua tempat duduk yang mengapit sebuah pancuran. Ibu ibu, remaja maupun anak anak duduk dan mandi bersama di tempat ini. Kondisi seperti ini, yang mungkin mengakrabkan mereka. Karena, sambil mandi mereka juga bisa saling bercerita.
Saya yang merasa malu sendiri saat memasuki pemandian tersebut, tidak berlama lama dan segera keluar. Sehabis mengambil beberapa gambar masjid dan rumah sambil berbincang dengan Nonadita dan uni Miya (pendamping tim), kami memutuskan untuk kembali karena hujan yang mulai turun. Saat kembali menaiki tangga, kami menemukan jalan menuju sebuah batu yang diberi pagar dan diberi peringatan yang ditulis resmi dari pemerintah. Batu tersebut adalah Batu Basurek, batu besar berwarna coklat pucat yang di atasnya terdapat torehan yang tidak lagi dapat dibaca. Di desa ini juga terdapat kuburan panjang yang konon katanya merupakan kuburan dari Dt. Tantejo Gurhano, arsitek Rumah Adat Minangkabau.
Segala peninggalan yang terdapat di desa ini sangat terjaga keutuhannya. Semoga dapat dicontoh oleh objek wisata lainnya sehingga generasi yang akan datang nanti masih bisa melihat seperti apa nenek moyang mereka.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bule Swiss Ejek Nyepi di Bali, PHDI Buka Suara
Duh, Bule Hina Perayaan Nyepi di Bali Melalui Media Sosial