Nyanyian Alam dari Bumi Sikerei

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kinanti Desyva|49882|SUMBAR|13

Nyanyian Alam dari Bumi Sikerei

- detikTravel
Kamis, 09 Jun 2011 13:00 WIB
Sumatera Barat - Aloita? Dalam bahasa Mentawai berarti apa kabar? Β Hari ini (6/10), saya akan mengunjungi perkampungan dalam untuk melihat kehidupan Sikerei dari Mentawai. Sikerei merupakan sebutan bagi orang yang menjadi dukun budaya suku suku di Mentawai. Mereka tidak menyantet atau memelet, tapi sebagai orang orang yang memiliki bakat untuk mengobati penyakit dan memimpin upacara adat.
Untuk mencapai ke perkampungan terdekat (dari Muara Siberut), kami harus menyusuri Sungai Gereget selama kurang lebih 60 menit. Pohon pohon serta beberapa Lalep atau Sapo (rumah warga), menjadi pemandangan kami selama dalam perjalanan menggunakan perahu motor. Sesekali, kami juga melihat pompong (perahu tradisional) yang sedang di dayung oleh suku asli Mentawai.
Saat sampai, kami segera disambut oleh keluarga dari Totulu yang kakaknya merupakan seorang Sikerei. Tidak semua orang bisa menjadi seorang Sikerei, harus melalui pendidikan di dalam hutan selama kurang lebih satu bulan. Calon Sikerei harus menemukan guru yang bersedia mengajarkannya dan mempersiapkan diri dengan memelihara 100 ekor ayam dan babi. Dengan kata lain, memerlukan modal yang cukup besar untuk menjadi seorang Sikerei selain bakat saja.
Kami berkenalan dengan seluruh anggota keluarga, tidak semua orang dapat berbahasa Minang atau Indonesia. Tapi sebagian besar dari mereka mengerti bahasa yang kami gunakan. Kami menjelaskan maksud kedatangan kami, adalah untuk mengenal lebih jauh tentang suku pedalaman Mentawai serta melihat tarian dan nyanyian mereka yang begitu khas. Untuk menari, dibutuhkan dua orang Sikerei. Dan di rumah ini, hanya Kakak dari Totulu saja yang menjadi Sikerei, sehingga kami harus menunggu cukup lama bagi mereka untuk menjemput Sikerei yang lain.
Sementara menunggu, saya melihat lihat sekitar rumahnya. Sudah ada sentuhan modern di sini. Mereka sudah memasak dengan menggunakan kuali besi dan tidur menggunakan kelambu yang biasa digunakan di kota. Bahkan sebagaian dari mereka sudah mengenakan baju, seperti pendatang. Di bagian bawah rumah digunakan sebagai kandang babi. Sedangkan ayam, biasanya berada di atas pohon, sungguh unik.Β 
Akhirnya Sikerei yang kedua datang, sambil menghisap rokok yang kami bawakan, ia mempersiapkan diri untuk menari. Dalam menari dan menyanyi tidak boleh sembarangan. Bahkan untuk menarikan sebuah tarian tertentu diharuskan mengadakan upacara (memotong hewan ternak lalu makan bersama) terlebih dahulu.
Tarian pertama pun dimulai. Tarian ini dilakukan sambil bernyanyi. Lagu yang sangat harmonis dengan alam. Tarian itu menceritakan tentang burung Egu yang tidak bisa makan karena hujan. Sungguh pas dengan suasana saat itu yang kebetulan juga sedang hujan. Tariannya memang terlihat sederhana, tapi kaya akan makna. Salah satu dari cirri khas tariannya adalah gerakan kaki seperti tap dance yang membunyikan lantai kayu sehingga sinergis dengan suara gendang yang mengiringi.
Setelah selesai, mereka tidak langsung menarikan tarian kedua. Mereka berbincang bincang sejenak sambil menghabiskan rokok mereka. Di suku pedalaman, hampir semua orang merokok. Ibu – ibu, bapak – bapak bahkan anak – anak. Tidak lama, Sikerei – sikerei itu mulai malakukan tarian kedua, tentang Burung Cad – Cad yang meminum air dari bunga secara berganti gentian. Dilanjutkan tari ketiga tentang Burung Kemud yang memakan ular lalu dibagi bagikan kepada anak anaknya.
Mereka menarikan apa yang mereka lihat sehari hari di tempat mereka tinggal. Dan mereka hidup belajar langsung dari alam. Moral yang dapat diambil dari tari tarian itu bisa dilihat saat kami semua makan. Bila satu makan, yang lain juga harus makan. Dan makanan itu harus sama besar, sama banyak dan sama rasa. Bahkan dalam suatu pesta mereka makan dalam wadah yang sama. Tidak peduli kepala suku atau anak anak.
Nilai – nilai tersebut patut dicontoh dan diamalkan. Seperti mereka, kita harus selalu hidup seimbang dengan alam. Menjaganya, dan belajar darinya. Karena banyak nilai yang dapat kita petik dari alam. Seperti Sikerei yang belajar dari apa yang mereka lihat dari alam dan mengajarkannya kepada yang lain melalui tarian dan nyanyian.Β 
Β 
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads