Safety stop diperlukan untuk memberi waktu kepada tubuh penyelam untuk beradaptasi dengan tekanan di bawah air. Jika safety stop tidak dilakukan, dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga, kerusakan pada saluran sinusitis, decompression sickness (disebut penduduk lokal dengan kram) dan dapat pula berujung kematian. Untuk menghindari resiko diatas, satu-satunya tindakan prefentif yang dilakukan para penyelam kompresor ini adalah membuang air kecil di laut sebelum naik ke kapal. Saya pun tak mengerti kenapa. Salah seorang pemilik kapal yang kami temui pernah menyaksikan bahaya menyelam kompresor. Beliau pernah mendapati salah satu penyelamnya, yang tentu saja menggunakan kompresor, begitu naik ke kapal menggigil, badannya kaku (kram) dan tidak dapat buang air kecil selama dua hari hingga akhirnya mendarat dan dibawa ke dokter. Beliau juga tak jarang mendengar kabar penyelam-penyelam kompresor meninggal akibat kram.
Saya pun bertanya, mengapa masih menggunakan kompresor jika sudah menyaksikan bahaya yang diakibatkannya. Bang Sapar menjawab "Lebih baik kita pakai kompresor daripada pakai tabung. Karena kalau pakai tabung ada jamnya (persediaan udara terbatas). Bisa juga menggunakan jaring, tetapi jumalah ikan yang didapat sedikit dibanding menggunakan panah." Semua dilakukan demi mengumpulkan rupiah. Dalam satu kali melaut, Bang Sapar dapat membawa pulang dua sampai tiga juta rupiah. Sungguh iming-iming yang tidak sedikit. Tetapi, apalah arti tiga juga rupiah bila dapat berujung kematian?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya benar-benar berharap dapat berbuat lebih untuk para nelayan kompresor. Memang tidak bisa, hanya dilakukan dalam satu kali kunjungan. Harus dilakukan pendekatan dan edukasi berulang karena kegiatan ini telah berlangsung lama. Karena keterbatasan pengetahuan dan waktu pada saat itu, saya hanya dapat menyarankan mereka untuk selalu melakukan safety stop saat menuju kedalaman laut dan menuju ke permukaan. Dengan sedikit memberi penjelasan bahwa tubuh kita perlu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Mereka pun mengiyakan saran saya, hal ini mungkin karena melakukan safety stop tidak menambah biaya yang dikeluarkan.
Mendengarkan kisahnya saja sudah membuat kami merinding. Hati kecil saya berontak, haruskah bertaruh nyawa demi membawa pulang rupiah?
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura