15 Mei 2011.
Jam di tanganku sudah menunjukan pukul 7 pagi, ini menandakan sudah 14jam aku duduk di bus. Yap, inilah perjalanan jauh pertamaku menggunakan bus, dan merupakan perjalanan pertamaku ke Jogjakarta. Hanya dengan 140ribu rupiah, harga yang cukup ekonomis, bukan?
Awalnya sih, aku tidak menganggap perjalananku kali ini sebagai sebuah liburan. Sebagai mahasiswa jurnalistik, aku diwajibkan untuk meliput sesuatu yang unik, ya ga jauh dari syarat ujian. Tapi semua itu berubah, ketika kuinjakan kaki di kota pelajar ini.
Sinar Mentari yang terik menyambut langkahku di Jogjakarta, udara segar yang berhembus mengitari seluruh tubuhku. Perjalanan jauh dari Tangerang terbayar lunas, dan aku langsung mencari sebuah penginapan dan menaruh seluruh barang bawaanku. "Hotel Sala", sebuah hotel low class yang tidak jauh dari pusat kota, namun sangat nyaman karena hotel yang luas, bersih dan pelayanan yang baik menarik hatiku. Hanya dengan 120ribu per malam, aku bisa mendapatkan kamar yang 'bagus' untuk seorang 'backpacker'.
Perut memang tidak bisa bohong, setelah aku menaruh bawaanku di hotel, aku langsung mencari rumah makan yang terdekat. Inceranku saat itu cuma satu, yaitu gudeg. Namun sayang, aku harus melupakan Gudeg untuk sementara, dan kembali pilihan jatuh di rumah makan Padang. Aku baru tau, kalau RM Padang di Jogja memperbolehkan kita mengambil makanan sesukanya. Dengan merogoh kocek 10ribu, aku sudah bisa memuaskan perutku. Setelah perutku terisi, perjalananku dimulai. Aku dan ketiga temanku merental mobil, tidak terlalu mahal untuk ukuran rental dan supir, 350ribu rupiah.
Gunung Merapi, gunung yang meletus akhir oktober 2010 dan menewaskan lebih dari 160orang menjadi tujuan pertamaku. Aku mengambil rute melalui Kaliurang. Perjalanan yang sangat menyenangkan, dikelilingi oleh gunung dan pemandangan indah lainnya. Perjalananku kali ini menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam, dan akhirnya tulisan "Anda Memasuki Daerah Bahaya" menyambutku. Akhirnya sampai juga di kaki gunung Merapi, dan kami harus membayar 5ribu per orang.
Tidak disangka, letusan merapi yang dianggap hanya sebagai bencana, bisa memberikan nilai wisata yang menjanjikan. Banyak warga sekitar menggunakan kesempatan ini untuk mencari penghasilan tambahan. Ada yang bekerja sebagai tukang ojek, penjual makanan dan minuman, serta menjual CD rekaman letusan merapi.
Keadaan rumah dan pohon-pohon yang hangus tetap dibiarkan seperti keadaan awal, tetapi disitulah daya tariknya. Tanah yang dipenuhi oleh pasir dan bebatuan kecil, dan yang paling menarik adalah keadaan yang bersih. Sangat jarang ditemukan sisa sampah, hanya ranting-ranting dan dedaunan renta yang menunggu diterbangkan oleh angin. [bersambung]
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Parah Banget! Turis Thailand Jadi Korban Maling di Bromo, 7 Koper Hilang
11 Bandara Papua Ditutup
Sejarah Tembok Ratapan yang Asli: Tempat Suci Umat Yahudi