Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Jatman
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Jatman

- detikTravel
Jumat, 03 Feb 2012 09:42 WIB
Indonesia, DI Yogyakarta, Yogyakarta - Darmanto Jatman, seorang penyair yang kerap berpenampilan rapi, bergaya flamboyan dengan rambut kribo menjadi ciri khasnya. Pria kelahiran Jakarta 16 Agustus 1942 ini senang memainkan kata dan merangkainya menjadi puisi.
Sabtu (21/01) malam, Darmanto hadir bersama sang istri, Sri Muryati, di pendapa Rumah Budaya Tembi. Duduk di atas kursi roda, Darmanto tersenyum sumringah menyalami beberapa tamu yang datang. Tentu saja, karena malam itu merupakan malam istimewa baginya. Beberapa seniman tampil membacakan kembali puisi-puisi yang dulu pernah ia ciptakan dan bawakan. Mereka antara lain, Hari Genthong, Butet Kartaredjasa, Whanny Dharmawan, Landung Simatupang, Naomi Srikandi, dan Gunawan Maryanto.
"Darmanto adalah seorang penyair dengan puisi-puisinya yang luar biasa bagus, apalagi jika itu dibacakan sendiri olehnya. Lalu kita ingat bahwa saat ini Mas Darmanto sedang sakit. Ada usulan dari Hari Genthong untuk bagaimana jika teman-temannya saja yang membacakannya. Kami melakukan persiapan sekitar dua minggu dan jadilah 'Malam Sastra Tembi Bersama Darmanto Jatman'," ujar Ons Untoro, Direktur Tembi Rumah Budaya.
Hari Genthong, seniman yang juga sahabat karib Darmanto, juga menyatakan hal yang sama. Sudah 47 tahun ia mengenal Darmanto. Di matanya, Darmanto sosok yang luar biasa. Puisi maupun cara membacakannya sangat baik.
"Ya, mungkin nanti kami semua yang di sini tidak akan mampu mencapai taraf seperti apa dia baca. Ini karena Darmanto itu orang yang sangat musikalis."
Sebagai penyair, Darmanto banyak menggunakan bahasa-bahasa kiasan atau metafora terutama makna kejawen dalam puisi-puisinya. Misalnya, puisi berjudul "Istri" yang dibuat awal tahun 1980-an. Puisi ini mengandung nilai-nilai tentang posisi serta peran perempuan terutama istri dalam kebudayaan Jawa.
Pada periode sama, Darmanto juga menciptakan puisi "Rumah" dan "Anak". Melalui ketiga puisi itu, ia mengangkat nilai-nilai atau falsafah kehidupan manusia Jawa. Sementara itu, buku kumpulan puisi berjudul "Istri", terbitan Grasindo 1997 bahkan mengantarkannya meraih penghargaan bergengsi, The S.E.A Write Awards di tahun 2002.
Malam itu, aktor teater, Whanny Dharmawan khusyuk membacakan ketiga puisi tersebut. "Saya dulu pernah membaca puisi-puisi ini di Festival Puisi Internasional. Pada waktu itu Mas Sitok Srengenge mendaulat saya untuk membacakan. Saya memilih ketiganya. Sebetulnya pilihan saya saat itu ya waton penak saja. Tapi begitu selesai, saya mulai berpikir bahwa rumah, istri, dan anak itu adalah kelengkapan. Sesuatu yang lengkap," ujar Whanny sesaat sebelum membacakan puisi.
Di awal acara Hari Genthong membacakan "The 27th Crisis" dan "Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua". Setelahnya, Gunawan Maryanto membacakan "Pidato Karangdempel", sebuah puisi yang sarat isu-isu ekonomi, sosial dan politik. Sementara Naomi Srikandi, hadir dengan gaya santai membaca puisi khas isu perempuan dan sarat budaya Jawa, yakni "Teori Probability Tukini". Butet membacakan "Golf Untuk Rakyat" dan "Hei Sapi".
Semuanya membacakan puisi tersebut dengan penuh penghayatan. Pada akhir acara, Landung Simatupang membacakan Melintasi Atlantik dan Impresi Honolulu.
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads