Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

d'Traveler Jelajahi Indonesiamu

Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok

Asyle El - detikTravel
Kamis, 30 Agu 2018 17:15 WIB
Suasana pagi di Gili Trawangan
Perjalanan Menuju Gili Trawangan
Senja di Pantai Senggigi
Menenun di Desa Sade
Perjalanan Menuju Pantai Senggigi
Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Honeymoon Ala Backpacker Nan Syahdu di Lombok
Jakarta - Honeymoon ala backpacker? Siapa Takut! Berikut perjalanannya ke Lombok yang penuh kesan.Lombok, Pulau Seribu Masjid ini menyimpan banyak sekali kenangan. Pulau ini merupakan pulau pertama yang kudatangi dengan status sebagai istri orang. Ya, Lombok menjadi tempat wisata yang kupilih bersama suami untuk honeymoon.Namun jika orang lain bulan madu dengan menggunakan pemandu, paket tour honeymoon, atau hal ringkas lainnya, kami memilih cara berbeda untuk menikmati liburan kami yakni honeymoon ala backpacker. Sebenarnya mungkin bisa dibilang backpacker abal-abal lantaran kami sudah memesan hotel yang hendak kami singgahi dan memutuskan menyewa sebuah motor. Namun dengan tas ransel raksasa yang ada di punggung kami, masih layaklah ya untuk disebut dengan 'backpackeran'.Lombok bukan pulau yang besar jika dibandingkan Jawa. Rasanya hanya naik motor sebentar, tempat wisata yang kutuju langsung sampai. Terlebih sepanjang jalan kami ditemani pemandangan menakjubkan yang membuat perjalanan kami terasa semakin syahdu.Memang tak bisa dipungkiri, keindahan alam Lombok sangat memesona. Tidak heran sih, wisatawan asing pun kian ramai mengunjungi beragam wisata Indonesia di pulau nan cantik satu ini. Salah satu tempat yang barangkali menjadi 'fardlu ain' bagi wisatawan asing adalah Gili Trawangan.Terdampar di Gili TrawanganDestinasi pertama yang kami datangi begitu sampai Lombok memang pulau dengan hamparan pantai pasir putih dengan air biru nan cantik satu ini. Namun sejujurnya, awal kami datang ke tempat itu, kami merasa terdampar. Kenapa? Karena sebagian besar wisatawan yang datang adalah wisatawan asing. Barangkali salah satu alasannya adalah karena kami datang di hari Rabu, bukan weekend.Begitu menginjakkan kaki di sebuah hotel kecil di tengah pulau, kami ditawari untuk melakukan snorkeling. Kebetulan, serombongan anak muda dari kamar sebelah juga hendak melakukan snorkeling siang itu sehingga kami memutuskan untuk bergabung.Hal yang lucu dari snorkeling hari itu adalah, kami satu-satunya wisatawan yang tidak bisa berenang dan menggantungkan diri pada jaket pelampung. Saat wisatawan lain asyik naik turun ke kedalaman melihat keindahan bawah laut, kamu cuma bisa mengapung dan menyaksikan pemandangan nan elok itu dari jauh. Sungguh, rasanya ingin kembali ke masa lalu dan belajar berenang saat itu juga.Namun meski hanya melihat dari jauh, pemandangan bawah laut di dekat Gili Meno memang sangat cantik. Aku yang biasanya di pinggir pantai saja takut terbawa ombak, bahkan berani mengapung di tengah laut luas. Keindahan karang dan aneka ikan di wisata Indonesia satu ini berhasil mengusir rasa takutku dengan air.Namun drama tak bisa berenang ternyata bukan satu-satunya drama hari itu. Karena kami belum benar-benar siap untuk snorkeling, kami lupa tak membawa baju ganti dan uang sepeser pun hari itu. Padahal ternyata usai snorkeling kami tak langsung kembali ke penginapan melainkan justru mengunjungi Gili Meno. Saat orang lain berganti baju kering dan makan di beragam kafe di sana, aku dan suami masih memakai baju basah dan kelaparan.Beruntung, kami menemukan uang Rp 50.000 yang terselip di saku celana sehingga kami memutuskan membeli mie instan. Supaya lebih syahdu kami makan mie di sebuah kayu yang tergeletak di pantai sambil menertawakan kekonyolan kami hari itu.Hari kedua kami memutuskan menyewa sebuah sepeda untuk mengelilingi pulau. Dengan luas pulau yang hanya 15 kilometer persegi itu, kami bisa menjelajahinya dalam waktu beberapa jam. Kami menemukan banyak sekali tempat menarik yang sayang dilewatkan. Terutama untuk foto-foto! Kami bahkan melupakan cahaya matahari yang semakin terik dan membakar kulit. Keindahan alam Indonesia terlalu sayang untuk dilewatkan hanya karena takut hitam!Hotel Menakjubkan di SenggigiHari ketiga, kami memutuskan untuk meninggalkan Gili Trawangan dan kembali menyeberang ke Pelabuhan Bangsal. Dengan motor kami menyusuri jalan Senggigi menuju destinasi berikutnya yaitu Pantai Senggigi. Perjalanan ini sangat menyenangkan lantaran sepanjang jalan, kami ditemani hamparan laut biru yang hilang timbul dibalik bukit dan pohon kelapa.Kami segera menuju ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya untuk check in. Sebenarnya masih belum jam check inΓ‚ karena kami datang kepagian, beruntung petugas hotel berbaik hati mempersilahkan kami untuk check inΓ‚ lebih awal. Syukurlah kami memang sudah memesan semua penginapan dan tiket pesawat jauh-jauh hari dengan pegi-pegi. Dengan begitu kami bisa bersantai karena bisa memilih tempat menginap sesuka hati.Hal yang paling menyenangkan adalah kami mendapat hotel yang keren sekali. Bangunan kamarnya tersebar di bukit-bukit dan kami harus melewati anak tangga yang sangat banyak untuk menuju kamar. Kelelahan kami langsung hilang manakala melihat pemandangan pantai dari balkon kamar yang berhias ornamen ukiran. Sungguh, pemandangan yang sangat indah.Memesan kamar hotel jauh-jauh hari dengan pegi-pegi membuatku sama sekali tak menyesal. Aku sudah melihat review hotel ini, dan memastikan bahwa ini penginapan yang tepat untuk untuk kami. Akh, terima kasih pegi-pegi!Menjelang senja, aku dan suami segera beranjak ke pantai. Sayangnya, Senggigi tak seindah bayangan kami. Salah satu hal yang paling mengganggu adalah adanya sampah yang yang dibuang sembarangan. Duh, kalau melihat hal-hal begini jadi sedih deh. Wisata Indonesia itu banyak sekali menyimpan wisata alam yang elok rupawan. Sayang, kadang kita lupa menjaganya.Desa SadeKarena masih dalam edisi honeymoon, meski backpacker-an,Γ‚ kami memang memutuskan tak mengejar banyak tempat wisata untuk dijelajahi. Aku dan suami memutuskan stayΓ‚ di suatu tempat dalam waktu yang lama, menikmati setiap jengkal pemandangan, menikmati suasana sambil berbagi cerita. Hingga pada hari terakhir, kami memutuskan menutup perjalanan dengan pergi ke tempat tinggal suku Sasak, Desa Sade.Bangunan-bangunan di desa yang luasnya 5,5 hektar ini sangat unik. Pagarnya terbuat dariΓ‚ anyaman bambu, tiangnyaΓ‚ terbuat dari kayu, serta atapnyaΓ‚ yang terbuat dari alang-alang kering. Konon, menurut si pemandu bahan bangunan yang demikian membuat suasana dalam rumah tetap sejuk meski cuaca terik sekali pun.Hal yang paling unik dan nyeleneh dari bangunan ini yaitu lantainya yang terbuat dari tanah liat yang di campur dengan sedikit sekam padi, setiap minggu atau saat-saat tertentu digosok dengan kotoran kerbau dicampur sedikit air. Wow! Yang mengherankan adalah, aku tak mencium bau kotoran di sana. Justru dengan penggunaan kotoran kerbau ini malah membuat lantai jadi terlihat berkilau, halus, dan kayaknya sih kuat. Haha.Tidak lupa, di sana juga bisa belajar merajut loh. Karena aku orangnya tak sabaran, aku cukup belajar memintal benang untuk dijadikan gelang. Yang tak boleh ketinggalan dari tempat ini yaitu berburu kain songket khas Lombok untuk dibawa pulang.Sayangnya, saat ini Pulau Lombok sedang dilanda musibah gempa. Aku berharap semua yang ada di sana baik-baik saja. Sehingga kelak, kita bisa kembali ke sana untuk menikmati wisata alam yang indah tiada tara. Tentunya bagi kamu yang hendak berwisata, bisa loh cek tiket pesawat, kereta, atau bahkan pesan hotel lewat @pegi-pegi.#Pegipegiyuk #JelajahiIndonesiamu
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads