Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung

Muhammad Catur Nugraha - detikTravel
Senin, 27 Apr 2015 11:50 WIB
loading...
Muhammad Catur Nugraha
Masjid Al - Ikhlas Sijuk
Foto bersama di depan Masjid Al Ikhlas Sijuk
Di dalam masjid Al - ikhlas Sijuk
Klenteng Sijuk
Foto bersama di Klenteng Sijuk
Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Potret Damai Beragama di Sijuk, Belitung
Jakarta - Selain wisata pantai, di Belitung juga ada wisata religi yang bisa Anda datangi. Ada masjid Al Ikhlas dan Klenteng Sijuk yang letaknya berdampingan dengan damai. Fakta lainnya, kedua bangunan ini adalah tempat ibadah tertua di Belitung.Pada 6 Maret 2015, saya dan teman-teman berkesempatan menjelajahi Belitung, negeri tempat di mana kisah "Laskar Pelangi" yang sangat terkenal itu dilahirkan. Karena hari Jum’at, maka sebelum berwisata ke Pantai Tanjung Tinggi, kami ingin melaksanakan shalat Jum’at di Masjid Al-Ikhlas yang dari referesi yang kami dapat merupakan salah satu masjid tertua di Pulau Belitung.Dari penginapan kami di Tanjungpandan, kami diantar menuju wilayah Sijuk tempat masjid Al Ikhlas berada. Kira–kira 30 menit perjalanan kami sudah memasuki daerah Sijuk. Ternyata sebelum sampai Masjid Al Ikhlas, terdapat tempat ibadah lainnya yaitu Klenteng Sijuk. Berhubung waktu masuk shalat Jum’at masih lama maka kami sempatkan untuk mampir di klenteng. Bangunan ini telah dijadikan cagar budaya oleh pemerintah setempat.Kami dipersilahkan untuk melihat secara dekat oleh penjaga klenteng. Klenteng Sijuk dibangun pada tahun 1815, hal ini membuktikan bahwa klenteng ini juga merupakan klenteng tertua yang berada di Belitung. Pada saat kami datang kelenteng masih dihiasi oleh pernak–pernik khas Imlek yang didominasi oleh warna merah.Karena waktu shalat Jum’at telah tiba maka kami segera menuju Masjid Al Ikhlas yang ternyata jaraknya kurang lebih hanya 200 meter saja dari Klenteng Sijuk. Dekatnya jarak antar tempat ibadah ini membuktikan bahwa sejak zaman dahulu sudah terjalin sikap gotong-royong dan saling menghargai di daerah sini antara orang Melayu, (istilah untuk penduduk Sijuk) dan orang Cina (istilah untuk orang Tionghoa).Masjid Al Ikhlas sendiri dibangun 2 tahun setelah Klenteng Sijuk atau pada tahun 1817. Menurut informasi yang kami dapatkan, Masjid Al Ikhlas merupakan satu–satunya yang masih ada dari 4 masjid di Belitung yang dibangun dengan bentuk bangunan yang sama.Masjid pertama ada di daerah Parang Bulo, masjid kedua di daerah Buding, Masjid ketiga di daerah Badau. Kemudian masjid keempat adalah Masjid Al Ikhlas yang masih ada sampai saat ini, sementara tiga masjid sebelumnya sudah tidak ada lagi.Masjid Al Ikhlas ditopang oleh 4 pilar tiang utama yang bahan bakunya adalah kayu yang hanya tumbuh di daerah hutan bakau. Kayu ini disebut Kayu Teruntum. Kayu ini yang didapat dari daerah hutan Mengguru di Desa Sungai Padang.Kayu ini dibawa dengan rakit selama berbulan–bulan, mengingat pada waktu itu belum ada alat transportasi seperti sekarang. Untuk dindingnya terbuat dari papan dan atapnya terbuat dari sirap (belahan kayu tipis) yang berasal dari Pulau Kalimantan. Masjid dan Klenteng ini memang layak untuk Anda kunjungi saat di Belitung.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads