Jakarta - Beberapa traveler mungkin tahu tentang pasar maling, pasar yang barang-barangnya tidak jelas dari mana. Ternyata, pasar maling juga terdapat di Portugal tepatnya di Kota Lisbon. Umurnya sudah ratusan tahun! Saya rasa hampir di setiap kota besar di Indonesia terdapat pasar sejenis. Memang bukan maling/pencuri yang berjualan di tempat ini, namun mungkin barang-barang yang dijual di tempat ini sumber datangnya kurang jelas, maka disebut pasar maling. Di Lisbon, Portugal juga terdapat pasar maling. Pasar ini terkenal dengan nama Feira da Ladra. Menurut sejarahnya, pasar non permanen yang terletak di tepi Kota Lisbon ini sudah ada sejak abad ke-12 dan mulai disebut sebagai pasar maling pada abad ke-17. Sungguh sejarah yang panjang untuk sebuah pasar!Pagi itu saya janjian dengan dua traveler lainnya yang saya kenal di hari sebelumnya untuk menuju ke pasar ini. Dengan tram kayu nomor 28 dari pusat kota, lokasi pasar bisa ditempuh sekitar 40 menit perjalanan.Sesampainya di Campo de Santa Clara, kami turun dari tram kayu dan berjalan sekitar 100 m menuju kerumunan orang. Dan ternyata kerumunan orang tadi adalah pedagang di pasar ini. Pasar ini sangat luas karena memanfaatkan bahu jalan, trotoar, taman, kios, mobil pick up untuk menggelar dagangannya. Meskipun demikian, pemerintah kota sangat mendukung pasar ini karena jalanan tempat mereka berdagang sudah ditutup sementara dan terdapat polisi yang berjaga.Yang dijual di tempat ini macam-macam. Mulai dari barang antik, keramik, kaset, CD musik, baju bekas, tas, boneka jari hingga peralatan rumah tangga. Hampir tidak ada yang menjual barang yang serupa di pasar ini. Masing-masing pedagang mempunyai barang yang khas.Teman saya akhirnya memborong pakaian yang murah meriah setelah beberapa waktu mencoba puluhan pakaian. Selain kami, ada beberapa rombongan turis lainnya yang juga ikutan berkeliling di pasar ini.Mereka sangat tampak berbeda karena sibuk dengan kamera masing-masing, tidak dengan berbelanja. Saya hampir saja membeli kamera film yang sangat unik dengan harga miring, tapi mengingat perjalanan traveling saya masih panjang, saya urungkan niatan membeli kamera itu. Seperti pasar pada umumnya, para pedagang sibuk menawarkan dagangannya dan aksi tawar menawar pun menjadi kegiatan yang menarik. Karena pada umumnya pedagang di sini tidak bisa berbahasa Inggris. Gesture tangan, kalkulator dan mimik wajah menjadi andalan untuk melakukan tawar menawar.Tidak terasa sudah hampir 3 jam kami berada di pasar ini dan akan melanjutkan tujuan ke kota tua. Tapi sebelumnya, kami akan menuju hotel untuk menaruh semua belanjaan.












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?