Leuwi Priok, 'Surga Tersembunyi' di Sentul

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Leuwi Priok, 'Surga Tersembunyi' di Sentul

Derry Nurmansyah - detikTravel
Jumat, 24 Okt 2014 11:25 WIB
loading...
Derry Nurmansyah
Leuwi Priok
Plang Pintu Masuk
Trekking
Leuwi Priok
Lokasi Kemping
Leuwi Priok, Surga Tersembunyi di Sentul
Leuwi Priok, Surga Tersembunyi di Sentul
Leuwi Priok, Surga Tersembunyi di Sentul
Leuwi Priok, Surga Tersembunyi di Sentul
Leuwi Priok, Surga Tersembunyi di Sentul
Jakarta - Sentul tak hanya terkenal dengan lintasan sirkuitnya saja. Masih banyak panorama alam yang belum diketahui traveler di sana, seperti air terjun Leuwi Priok yang bersih, jernih dan punya kolam alami. Yuk, akhir pekan ke sini!Bermula mendapatkan info tentang adanya air terjun mini Leuwi Hejo di kawasan Sentul, Bogor, saya menjadi penasaran untuk mendatangi lokasi tersebut. Berbekal sedikit info yang saya dapat, dan kebetulan sedang ada teman dari Italy dan Puerto Rico yang mau berkunjung ke rumah, jadi sekalian saja saya ajak mereka untuk mengunjungi tempat tersebut. Kebetulan mereka habis dari Bali dan Yogjakarta lalu ke Jakarta.Tanggal 12 Agustus 2014, Pukul 12.30 WIB, saya langsung meluncur ke Stasiun Bojong Gede untuk menjemput mereka. Sementara mereka sudah meluncur dengan mengunakan kereta api dari Kalibata tempat mereka bermalam di Jakarta. Banyak kereta yang ke arah Bogor tapi mereka belum muncul juga.Pukul 14.00 WIB, akhirnya mereka sampai di Stasiun Bojong Gede, Felicia langsung memberi kabar saya lewat SMS, kalau dia sudah sampai dan menunggu di pintu keluar yang ke arah Gaperi. Saya langsung menghampiri mereka dengan meminta izin ke petugas kereta untuk masuk ke dalam stasiun, dan akhirnya saya bertemu dengan mereka dengan membawa barang yang begitu banyak, sudah seperti orang ingin pindah rumah.Pukul 15.00 WIB, kondisi cuaca sudah gelap, pertanda mau turun hujan. Berhubung saya sudah janji mau mengajak mereka ke air terjun mini Leuwi Hejo, akhirnya saya coba cari 1 motor lagi untuk mereka bawa. Tapi sayang, tukang ojek di depan gang rumah tidak mau menyewakan motornya, terpaksa saya balik lagi ke rumah dan bilang ke mereka kalau kita akan naik motor bertiga.Mereka tidak masalah 1 motor bertiga. Setelah keduanya berganti pakaian, saya langsung nyalain motor. Felicia langsung duduk di belakang, dan Rafael duduk di belakang Felicia. Saya langsung memacu motor meluncur ke lokasi melalui jalur Sentul. Di tengah perjalanan wilayah Pemda, turun hujan gerimis, Felicia membisikkan ke telinga saya untuk cancel karena cuaca yang hujan, tapi saya tetap melanjutkan perjalanan.Setelah melewati lampu merah Pemda, kondisi tidak hujan dan perjalanan tetap dilanjutkan. Setelah melewati Sirkuit Sentul, ada beberapa jalanan yang rusak parah. Dengan sabar dan meliuk-liuk seperti ular, akhirnya jalan yang rusak itu mudah dilalui. Setelah melewati gedung SCC, saya mengambil trek lurus dan memasuki Perumahan Elite Sentul ambil trek lurus dan di perempatan (putaran), saya belok kiri ke arah Jungle Land.Setibanya di gerbang Jungle Land, motor saya belokkan ke arah kanan, agak menanjak ke atas. Karena saya belum tahu lokasi tempatnya, saya pun bertanya ke warga sekitar. Ternyata warga sekitar tidak mengenal Leuwi Hejo, mereka tahunya Leuwi Depok, akhirnya saya minta diantar sama warga dan si Rafael naik ke motor warga setempat yang nganterin, karena trek yang menanjak, tidak akan mungkin kuat 1 motor bertiga.Pukul 16.30 WIB, akhirnya kami tiba di lokasi Karang Tengah 2, Wangun Depok. Motor saya parkirkan di rumah warga, salah seorang warga setempat mengantarkan kami ke lokasi. Mereka menyebut tempat tersebut Leuwi Priok, untuk ke lokasi harus trekking selama 45 menit dengan jalan setapak naik turun bukit memasuki hutan. Beberapa jalan sudah di semen, selanjutnya jalanan yang bertanah campur bebatuan dan melewati jembatan dari bambu yang sudah di buat oleh warga setempat.Saat itu kondisi Felicia kakinya sedang cedera karena waktu di Jogjakarta terjadi kecelakaan jatuh dari motor. Saya khawatir juga melihat kondisi si Felicia dengan berjalan pincang, sedikit-sedikit harus menunggu Felicia, karena situasi sudah sore tidak ada waktu buat istirahat dan harus tiba di lokasi sebelum gelap datang.Dengan trek yang lumayan menantang dan penuh kesabaran, akhirnya kami tiba di lokasi Leuwi Priok. Ternyata ini bukan tempat yang saya cari karena bentuknya yang berbeda.Meskipun nyasar dan salah tempat, akhirnya saya menemukan surga yang tersembunyi di wilayah Sentul. Tempat ini masih jarang di kunjungi oleh orang-orang. Di lokasi ini tidak ada tiket masuk alias gratis. Hanya memberi uang sukarela ke warga tempat memarkirkan motor.Tanpa membuang waktu lagi, saya langsung berenang di tempat tersebut. Menurut warga yang mengantarkan kami ke lokasi, kedalaman air 2,5 meter. Air terjun tersebut merupakan aliran air dari air terjun Cikujang, karena bentuk aliran air nya seperti air terjun maka saya menyebutnya air terjun mini. Di lokasi ini ada beberapa air terjun, puncak air terjun berada di atas dan membutuhkan waktu 2 jam perjalanan.Felicia dan Rafael hanya menikmati panorama alam yang masih asri dan sejuk di areal tersebut, sementara saya asyik berenang sendirian di tempat tersebut. Dengan air yang sangat jernih dan dingin, berkali-kali saya ajakin untuk masuk ke kolam, mereka tetap tidak mau karena air yang sangat dingin dan juga waktu yang sudah sore. Di lokasi ini juga bisa untuk kemping, karena waktu sudah mau gelap di tambah lagi sudah mau hujan, kami memutuskan untuk pulang.Pukul 17.30 WIB, trekking pulang melalui jalur yang berbeda dan sempat merasakan kegelapan saat menapaki jalan setapak yang membelah hutan. Selama 45 menit trekking, akhirnya kami sampai di rumah warga tempat saya memarkirkan motor. Felicia dan Rafael tak sabar mau kembali ke rumah, karena sudah merasakan kelelahan di perjalanan.Akhirnya saya langsung memutuskan untuk langsung pulang tanpa beristirahat dahulu di rumah warga tersebut. Sesampainya di jalan aspal, Felicia langsung naik di motor saya dan Rafael naik di motor tukang ojek. Di pertengahan jalan, hujan turun dengan derasnya, terpaksa motor saya belokkan di warung nasi padang untuk berteduh sambil makan malam bersama.Selesai makan, kondisi cuaca masih hujan dengan deras, kami tetap menunggu sampai hujan reda. Satu jam menunggu hujan pun berhenti, dan kami melanjutkan perjalanan. Tukang ojek hanya mau mengantar sampai pintu gerbang Jungle Land, di depan gerbang tersebut Rafael pindah ke motor saya, dan kami melanjutkan perjalanan pulang dengan 1 motor bertiga.Tak berapa lama hujan berhenti, kami melanjutkan perjalanan kembali, sesampainya di wilayah pemda, saya mengajak Felicia dan Rafael untuk menikmati Tutut (keong sawah). Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, karena Rafael sudah merasa lelah, di tambah lagi besok pagi harus berangkat ke Dermaga Muara Angke untuk berkunjung ke Pulau Pari.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads