Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta

Raymond Maulany - detikTravel
Senin, 30 Jun 2014 17:10 WIB
loading...
Raymond Maulany
Jeepney
Monument Jose Rizal dan upacara pergantian penjaga
Salah satu gerbang masuk Intramuros
Sekolah di dalam benteng
Salah satu mal terbesar di Filipina
Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Manila, Macet dan Panasnya Sama Dengan Jakarta
Jakarta - Manila, Filipina, merupakan kota yang menarik untuk dikunjungi. Banyak tempat wisata menarik seperti Intramuros, kota tua yang terjaga baik. Manila sama dengan Jakarta, mulai dari panasnya sampai macetnya.Menuju Manila, ibukota Filipina dari Jakarta tidaklah sulit, sudah banyak penerbangan langsung dari Jakarta ke Manila. Waktu ke Manila kami menggunakan salah satu budget airline dari Filipina, Cebu Air.Perjalanan dari Jakarta ke Manila memakan waktu hampir 5 jam. Berangkat subuh dan tiba pagi hari di Manila, di NAIA Terminal 3. Karena ini pertama kali ke Manila, jadi sangat buta informasi akan Manila.Kebetulan berangkatnya terburu-buru karena ada kepentingan, jadi tidak sempat survey dulu di Google. Untung ada orang tua yang sudah lebih dahulu di Manila, jadi kami dijemput dan sudah dipesankan hotel.Dari bandara ke hotel kami menggunakan taksi, karena lumayan jauh dari bandara. Tarif taksinya lumayan juga. Ternyata memilih taksi di sana juga harus bertanya, apakah mereka menggunakan meteran atau tembak harga.Saran saya lebih baik naik yang meteran, karena menurut info yang kami dapat, kalau menggunakan taksi tembak harga lebih mahal kadangkala.Kami menginap di di Mabini Street di Hotel Mabini Mansion. Ternyata lokasi ini merupakan 'Old Downtown' kota Manila, seperti di Jakarta Kota. Sehingga di sekitar daerah itu dekat dengan beberapa tempat penting, seperti PBB di Manila, Kedubes AS, Rizal Park, dan beberapa tempat wisata lainnya.Selama di Manila, kami sebenarnya bukan berwisata, namun ada urusan lain. Sehingga hanya beberapa tempat yang kami kunjungi. Manila sendiri tidak jauh berbeda dengan Jakarta. Pada jam sibuk, sering terjadi kemacetan di jalan-jalan.Tapi yang sangat membantu adalah, Manila sudah mempunyai transportasi massal seperti MRT dan LRT. Di dekat saya menginap, sekitar 200 meter ada LRT UN Station, yang tersambung dengan MRT yang mengitari Manila.Untuk tarif LRT dan MRT mengikuti jarak. Dari tempat kami menginap, untuk menuju daerah Makati, khususnya pusat Mall seperti Glorieta 1,2,3,4,5 Greenbelt, The Landmark, dan lain saling tersambung.Kami cukup menggunakan LRT, kemudian disambung MRT. Kami naik LRT dari stasiun UN yang menuju ke arah EDSA yang merupakan stasiun terakhir LRT, kemudian menyambung MRT dan turun di Stasiun Ayala yang terhubung dengan SM Mall Makati.Sehingga untuk menuju mall lain tidak perlu berpanas-panas, karena kota Manila suhu udaranya lumayan panas karena terletak di pinggir laut. Sebaliknya, untuk pulang kami gunakan transportasi yang sama.Jika hendak menuju mal yang terkenal seperti Mall of Asia, dari tempat kami menginap bisa naik LRT, turun di stasiun EDSA, kemudian menyambung dengan angkot atau taksi. Dari stasiun EDSA tidak jauh lagi, atau bisa turun di stasiun Gil Puyat menyambung angkot atau taksi.Angkot di Manila seperti di Indonesia. Ada juga angkot Jeepney yang menarik untuk dicoba. Tidak seperti di Indonesia yang membayar ketika turun, namun di sana membayar saat kita di dalam kendaraan.Karena Jeepney duduknya memanjang dan menyamping ke belakang, sehingga apabila kita hendak membayar harus estafet dengan penumpang di samping kita. Bayangkan jika kita di pintu masuk duduknya, maka akan panjang jalur estafetnya.Tarif yang berlaku di sana sesuai jarak. Selain itu kami juga mencoba salah satu angkutan umum seperti becak, yaitu tricycle. Sama seperti becak, tricycle juga kita bisa tawar untuk ke suatu tujuan. Biasanya tujuannya tidak jauh.Kami pernah mendengar kabar bahwa orang di Filipina mahir berbahasa Inggris semua. Tapi ketika kami akan naik tricycle, kami sempat kesulitan untuk menawar dan memberikan tujuan, karena sang supir tidak bisa berbahasa Inggris. Ternyata persepsi kami selama ini salah. Namun kami bisa naik setelah berbicara menggunakan sedikit bahasa isyarat.Salah satu objek wisata yang kami kunjungi adalah Rizal Park dan Intramuros. Jose Rizal merupakan founding fathernya Filipina modern, sehingga hampir sama seperti Soekarno jika di Indonesia.Rizal Park hampir sama seperti Monas, di dalam terdapat Monumen Jose Rizal. Kami kurang pasti, apakah itu hanya monumen atau juga terdapat makamnya. Untuk masuk ke monumen tersebut dibatasi dan tidak sembarang masuk.Ketika kami ke sana sedang upacara pergantian penjaga. Penjaga mirip seperti seragam pasukan Amerika. Dalam Rizal Park kita bisa berkeliling dengan menggunakan delman atau kereta kuda, tentunya bayar.Selain itu ada diorama outdoor tentang perjuangan Jose Rizal dan sahabatnya. Untuk masuk ke dalam kita harus bayar, namun bisa dapat potongan harga jika menunjukkan KTM, baik lokal maupun internasional.Berkeliling Rizal Park cukup menrik, karena di dalamnya banyak terdapat taman-taman dan monumen yang bisa dijadikan objek wisata. Setelah itu cukup dengan berjalan kaki, kami menuju ke Intramuros, kota benteng kuno yang masih dihuni. Ini merupakan salah satu objek wisata di Kota Manila yang menarik.Intramuros cukup luas. Untuk mengelilingi bisa dengan berjalan kaki jika kuat, atau menggunakan tricycle wisata yang bisa ditawar. Intramuros sendiri kota dalam benteng yang tembok-temboknya masih utuh dan hampir bisa dikelilingi semua. Walapun kami sendiri hanya mengelilingi sebagian kecil.Di dalam Intramuros juga masih terdapat rumah, pertokoan, dan sekolah serta tempat ibadah seperti gereja yang arsitekturnya bergaya klasik. Banyak spot menarik di tempat ini untuk berfoto.Kami tidak sempat berkeliling semuanya, karena waktu dan kepentingan lain. Sebaiknya jika ingin berjalan-jalan di sini, siapkan payung dan air minum, karena udaranya cukup panas pada siang hari.Masuk ke Intramuros gratis, dan di dalam sini juga ada toko-toko suvenir. Sebelum pulang ke Indonesia, kami singah kembali di Mall of Asia, karena penerbangan kami malam hari, sehingga kami mampir dulu untuk membeli oleh-oleh seperti Goldilocks dan es krim ubee alias ubi yang lezat.Ternyata pusat perbelanjaan sudah tahu kalau es krim tersebut sering dibawa sebagai oleh-oleh, sehingga mereka sudah tahu cara membungkus es krim sehingga tidak 100% meleleh ketika tiba di Jakarta, dan itu terbukti.Uniknya, ketika kami sampai di Mall of Asia, di sana ada tempat penitipan barang-barang seperti koper dan lainnya dengan aman. Sehingga kita leluasa belanja oleh-oleh tanpa terbeban barang-barang lain.Mall of Asia ke bandara juga tidak terlalu jauh. Namun perhatikan jam sibuk. Kami sendiri sedia 2 jam sebelum waktu check in untuk menuju bandara.Bandara NAIA merupakan salah satu bandara yang ketat dalam pemeriksaan. Kami pun pulang ke Jakarta dengan menggunakan airline yang sama seperti ketika kami datang.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads