Pemerasan di Besakih, Pemkab Karangasem Terkejut
Senin, 09 Jan 2012 17:24 WIB
Fitraya Ramadhanny
Jakarta - Aneka modus pemerasan yang dialami para wisatawan di Pura Besakih, rupanya belum didengar benar oleh Pemkab Karangasem, Bali. Namun, mereka mengaku sudah berupaya membina warga setempat."Kalau ada kejadian pemerasan, tolong laporkan saja kepada kita," kata Kadis Budpar Karangasem I Wayan Purna saat dihubungi detikTravel, Senin (9/1/2012).Menurut Purna, kalau ada modus pemerasan, itu bukanlah petugas Budpar tapi merupakan warga setempat. Purna terkejut mengetahui pemerasan itu bisa mencapai ratusan ribu rupiah."Wah masa sih, Mas, sampai ratusan ribu begitu? Retribusi nggak sampai segitu, kok," ujarnya.Purna mengakui, pernah menerima pengaduan terkait ulah oknum pramuwisata yang memeras wisatawan. Oknum itu sudah ditindak."Kalau ada pengaduan, langsung kami tindak. Beberapa waktu lalu sudah ditindak 4 orang begitu ada pengaduan," kata dia.Pura Besakih menurut Purna turut dikelola oleh semacam organisasi penduduk setempat. Mereka menjadi pramuwisata, menjaga penerimaan tamu dan lain-lain. Namun, tidak mudah membina warga lokal."Yang mengantar-antar turis itu dari organisasi itu. Tidak mudah, Mas membina orang lokal," kata Purna.Dia memberi saran, jika ada wisatawan yang diperas kembali agar segera mengadu. Namun Purna tak bisa menjawab saat disebutkan fakta kalau wisatawan yang mengadu terkadang hanya menemui posko kosong tanpa petugas."Catat namanya, kejadiannya bagaimana, kalau perlu difoto. Supaya kami juga bisa cepat bertindak," kata Purna.DetikTravel juga berupaya menghubungi Bupati Karangasem I Wayan Geredeg untuk dimintai tanggapan. Namun sayang, menurut ajudan, sang bupati rapat seharian.Pemerasan yang dilakukan oknum-oknum pramuwisata dikeluhkan oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerasan ini sangat terstruktur mulai dari pintu masuk, dipaksa memakai pemandu, dipaksa memakai ojek, sampai dipaksa membayar donasi."Kami dicegat sekelompok pemuda yang meminta uang 'pemeliharaan' pura. Terjadi tawar menawar, namun mereka bersikeras, bahwa tarifnya memang sekian. Kami dimintai Rp 170.000 dan harus dibayar saat itu juga," kata Adhi, wisatawan asal Jakarta kepada detikTravel, Senin (9/1/2012).Sedangkan wisman lebih banyak mengadu lewat tripadvisor.com. 55 Persen wisman memberikan penilaian buruk terhadap Pura Besakih dan meminta yang lain untuk menghindari tempat itu karena risiko pemerasan."Saya merasa dirampok. Hati-hati kalau ke sana," kata Sassibassi dari Freemont, California, AS.Atau seperti kata Yersh dari Novosibirsk, Russia, "Ada masalah besar untuk turis di Besakih. Saya menyebutnya mafia Besakih."












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong