Napak Tilas Perjalanan 6 hari di Kota Padang
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Napak Tilas Perjalanan 6 hari di Kota Padang

Isthie Sovia - detikTravel
Jumat, 16 Des 2011 07:22 WIB
loading...
Isthie Sovia
Sejenak di depan Istana Bukit Tinggi
Napak Tilas Perjalanan 6 hari di Kota Padang
Jakarta - Untuk kedua kalinya, saya berhasil menginjakkan kaki di tanah Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih, apalagi kalau bukan Padang. Setelah sebelumnya hanya datang 1 hari maka pejalanan 6 hari 5 malam ini sungguh memuaskan. Sejatinya wilayah-wilayah yang ada di Sumatera Barat terdiri dari beberapa kota dan kabupaten, seperti Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang Pariaman dan Kota Bukit Tinggi. Namun, orang lebih mudah menyebut kesemuanya adalah Padang dan secara khusus disebut sebagai Ranah Minang atau Tanah Minang. Sepanjang perjalanan kita akan sering menemui bangunan dengan ciri khas bentuk tanduk kerbau, mulai dari rumah penduduk, restoran, hotel bahkan kantor bank pun menggunakan bentuk arsitektur tanduk kerbau.Dalam dunia sinematografi kita mengenal kisah Siti Nurbaya yang terpaksa menikah dengan Datuk Maringgih dan meninggalkan kekasihnya atau kisah Malin Kundang yang durhaka sehingga  menjadi batu di Pantai Air Manis. Pertama kali menginjakkan kaki di airport, Bandara Internasional Minangkabau yang berbentuk tanduk kerbau juga, kita akan bertemu banyak taksi karena inilah angkutan resmi yang ada di bandara.Tujuan pertama terdekat kita adalah mengunjungi  Universitas Andalas, yang berdiri di atas bukit. Kampus ini konon terluas di Asia Tenggara dan dihubungkan jalur bus kampus, setelahnya kita bisa mengunjungi Pantai Air Manis di mana Malin Kundang menjadi batu dan merutuki dirinya selamanya karena tidak mengakui ibunya. Selepas dari sana kita bisa mengunjungi bukit Siti Nurbaya, di sana terdapat makam yang konon adalah makam Siti Nurbaya.Menuju Kabupaten Padang Pariaman, saya beruntung karena datang tepat pada saat perayaan Tabuik, yaitu festival perayaan terbunuhnya Hasan dan Husein di Padang Karbala. Pada hari itu akan dilaring sebentuk burung yang diarak keliling kota dan menjelang magrib akan dilepas dipantai padang.  Pada hari itu segenap warga dari seluruh wilayah di Sumatera Barat berdatangan dari pelosok desa untuk menyaksikan Tabuik dari dekat sekaligus menikmati pantai Padang. Oh ya, jangan lupa belanja souvenir khusus yang cuma ada di Padang, yaitu keripik sanjai Rohana kudus atau christine hakim, Dua kripik sanjai ini memiliki outlet yang menjual oleh-oleh khas lainnya yang akan membuat tangan nggak tahan untuk mengambil semuanya.Wah, ada yang terlupa ya? Apa ya? Ya, kita hampir saja melupakan ritual belanja. Buat cewek udah pasti ini nggak akan terlupa, belanja asyik dimana lagi kalau bukan di  Bukit Tinggi. Pasar ini terletak tidak jauh dari Jam Gadang, sebuh jam besar hadiah dari Ratu Elizabeth. Konon jam ini kembarannya ada di Ingris,  yaitu jam big beng. Jam ini punya keunikan, yaitu angka romawi empat harusnya IV tertulis IIII. Aneh kan? Tapi, disitulah keunikannya.Menjelajahi areal taman Jam Gadang, kita akan melihat monumen Bung Hatta, bapak proklamator yang berpasangan dengan Bung Karno. Di sana senyumnya meyapa kita untuk berdiri dan berfoto mengenang bagaimana dahulu Bukit Tinggi pernah menjadi ibu kota darurat Indonesia pada saat Yogjakarta diduduki Belanda. Berkeliling pasar Bukit Tinggi tak pernah puas, pasar ini bentuknya memanjang seperti ular dan posisinya kadang mendaki kadang menurun, beragam kain songket dan kain kerudung dijajakan dengan harga yang murah meriah, souvenir seperti rumah adat juga dijajakan di sini.Urusan makan tidak usah khawatir sepanjang jalan bertebaran makanan khas padang yang penuh bumbu dan menggugah selera, di antaranya adalah restoran Lamun Ombak yang desain platfonnya berwarna biru langit (persis seperti atap mal Batam, nanti deh saya ceritakan dilain cerita ya). Restoran ini terletak di jalan lintas Sumatera dari arah Kota Padang menuju Bukit Tinggi jadi pasti ketemu. Setiap kita pesan makanan maka semua hidangan akan dikeluarkan, ga dimakan ya ga bayar itulah prinsip dalam kedai makan di ranah minang. Kalau punya waktu luang, mampirlah ke INS Kayu Tanam, sekolah tertua di Sumbar yang didirikan tahun 1926 oleh Engku Syafei, letaknya di tepi kanan jalan lintas sumatera dari arah padang, pemanfdngan alamnya amat menenangkan ditambah nuansa belajar dari sekolah boarding school Kayu tanam yang memberikan atmosfer pendidikan yang ramah.Inilah sekelumit kisah 6 hari di Padang semoga menjadi inspirasi bagi yang mau ke sana.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads