Rencana awalnya saya dan rekan-rekan setim berencana mengunjungi danau Ranau di pagi hari, tujuannya agar bisa memotret terbitnya matahari. Tapi ternyata, apa daya perjalanan panjang dari Pagaralam menuju Liwa telah membuat kami semua terlalu lelah dan sulit bangun pagi. Akhirnya kami berangkat pukul 08.00 dari Liwa, saya ditemani oleh 2 rekan fotografer lokal, Eko dan Eka yang pastinya akan membawa saya ke spot spot terbaik di Ranau.
Danau Ranau ini terletak di desa Lumbok, tidak terlalu jauh dari Liwa, kabupaten Lampung Barat, medan yang dilalui juga tidak berat. Selain milik propinsi Lampung, danau Ranau juga masuk dalam propinsi Sumatra Selatan. Dari Liwa menuju danau Ranau bisa ditempuh dengan mobil selama 40 menit, kecepatan santai antara 40 sampai 60 km per jam karena jalan agak sempit, menanjak dan berkelok-kelok. Tapi tenang, seperti yang saya tulis tadi, bukan medan yang berat.
Sesampai di danau, saya langsung menuju dermaga. Saat itu terlihat beberapa anak sedang berenang dengan riang. Saat saya mulai mengeluarkan kamera, beberapa anak lain yang masih berpakaian lengkap pun tib-tiba antusias melepas pakaian mereka dan segera loncat ke dermaga. Terlihat segar sekali. Sejujurnya saya pun ingin ikut berenang bersama mereka, tapi sayangnya saya tidak punya banyak waktu. Ada satu anak yang tuna wicara yang begitu antusias melihat saya dan kamera saya. Ia menarik baju saya sambil menunjuk-nunjuk sekeliling danau, saya tahu jika ia bisa bicara pasti ia akan menceritakan danau Ranau dan bukit-bukit indah yang mengelilinginya. Saat itu saya pun ikut antusias dan memberikan jempol saya kepadanya, tanda setuju dengan penjelasannya. Sejenak saya merasa sedih dan tersentuh, betapa ia sangat membanggakan tempat tinggalnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah puas di dermaga, saya dan rekan rekan melanjutkan memotret dari atas bukit. Ya, benar-banar bukit, dan celakanya saya harus mendaki jalan setapak yang terjal dan licin. Trek itu seharusnya mudah bagi mereka yang terbiasa mendaki gunung, tapi tidak bagi saya. Perjuangan berat mendaki terbayar dengan pemandangan yang sangat indah dari atas. Jajaran bukit nampak jelas dan gunung Seminung nampak tegas berdiri, semuanya masuk dalam frame.
Setelah puas, kamipun turun kembali, dan lagi-lagi karena saya bukan rang yang sering hiking, dua kali saya terjerembab karena tanah yang licin. Melanjutkan perjalanan ke desa Sukabanjar masih di bantaran danau Ranau. Desa itu unik karena memiliki kepercayaan bahwa mereka tidak boleh membangun rumah menghadap maupun membelakangi danau. Sayang, ketika saya coba mencari tahu alasannya, tak banyak warga yang mengerti, mereka hanya mengikuti budaya yang sudah turun temurun. Selebihnya, silakan datang ke Ranau dan menikmati keindahannya.












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun