Menyibak Keindahan Danau Ranau
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Titisari Raharjo|6883|BENGKULU & LAMPUNG|44

Menyibak Keindahan Danau Ranau

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 12 Jul 2011 14:20 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
dari atas bukit
anak anak sekitar danau Ranau meloncat bebas
menjelajah tanpa batas
Dermaga danau
Menyibak Keindahan Danau Ranau
Menyibak Keindahan Danau Ranau
Menyibak Keindahan Danau Ranau
Menyibak Keindahan Danau Ranau
Jakarta -

Rencana awalnya saya dan rekan-rekan setim berencana mengunjungi danau Ranau di pagi hari, tujuannya agar bisa memotret terbitnya matahari. Tapi ternyata, apa daya perjalanan panjang dari Pagaralam menuju Liwa telah membuat kami semua terlalu lelah dan sulit bangun pagi. Akhirnya kami berangkat pukul 08.00 dari Liwa, saya ditemani oleh 2 rekan fotografer lokal, Eko dan Eka yang pastinya akan membawa saya ke spot spot terbaik di Ranau.

Danau Ranau ini terletak di desa Lumbok, tidak terlalu jauh dari Liwa, kabupaten Lampung Barat, medan yang dilalui juga tidak berat. Selain milik propinsi Lampung, danau Ranau juga masuk dalam propinsi Sumatra Selatan. Dari Liwa menuju danau Ranau bisa ditempuh dengan mobil selama 40 menit, kecepatan santai antara 40 sampai 60 km per jam karena jalan agak sempit, menanjak dan berkelok-kelok. Tapi tenang, seperti yang saya tulis tadi, bukan medan yang berat.

Sesampai di danau, saya langsung menuju dermaga. Saat itu terlihat beberapa anak sedang berenang dengan riang. Saat saya mulai mengeluarkan kamera, beberapa anak lain yang masih berpakaian lengkap pun tib-tiba antusias melepas pakaian mereka dan segera loncat ke dermaga. Terlihat segar sekali. Sejujurnya saya pun ingin ikut berenang bersama mereka, tapi sayangnya saya tidak punya banyak waktu. Ada satu anak yang tuna wicara yang begitu antusias melihat saya dan kamera saya. Ia menarik baju saya sambil menunjuk-nunjuk sekeliling danau, saya tahu jika ia bisa bicara pasti ia akan menceritakan danau Ranau dan bukit-bukit indah yang mengelilinginya. Saat itu saya pun ikut antusias dan memberikan jempol saya kepadanya, tanda setuju dengan penjelasannya. Sejenak saya merasa sedih dan tersentuh, betapa ia sangat membanggakan tempat tinggalnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tidak ada alasan untuk tidak mencintai Ranau. Danau terbesar kedua di pulau Sumatra setelah danau Toba, dikelilingi bukit-bukit dan gunung Seminung, benar-benar cantik. Penduduk di sekitar danau Ranau rata-rata berprofesi sebagai penangkap ikan, atau sebagai petani. Kegiatan mereka biasanya di pagi hari, menangkap ikan. Beberapa penduduk pun menyediakan "homestay" bagi wisatawan yang hendak menginap tepat di sisi danau. Jika anda menginginkan untuk tinggal di resort, jangan khawatir karena pemerintah kota telah membangun resort yang bisa menjadi ilihan akomodasi.

Setelah puas di dermaga, saya dan rekan rekan melanjutkan memotret dari atas bukit. Ya, benar-banar bukit, dan celakanya saya harus mendaki jalan setapak yang terjal dan licin. Trek itu seharusnya mudah bagi mereka yang terbiasa mendaki gunung, tapi tidak bagi saya. Perjuangan berat mendaki terbayar dengan pemandangan yang sangat indah dari atas. Jajaran bukit nampak jelas dan gunung Seminung nampak tegas berdiri, semuanya masuk dalam frame.

Setelah puas, kamipun turun kembali, dan lagi-lagi karena saya bukan rang yang sering hiking, dua kali saya terjerembab karena tanah yang licin. Melanjutkan perjalanan ke desa Sukabanjar masih di bantaran danau Ranau. Desa itu unik karena memiliki kepercayaan bahwa mereka tidak boleh membangun rumah menghadap maupun membelakangi danau. Sayang, ketika saya coba mencari tahu alasannya, tak banyak warga yang mengerti, mereka hanya mengikuti budaya yang sudah turun temurun. Selebihnya, silakan datang ke Ranau dan menikmati keindahannya.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads