Β
Akhirnya kami dipandu oleh seorang pemuda berambut ikal sebahu, logatnya khas orang Jambi, pakaiannya amat sederhana. Tidak ada yang spesial dari penampilan pemuda ini. Yah layaknya pemandu wisata pada umumnya. Kami dibawa berkeliling area kawasan candi, mulai dari museum koleksi purbakala, beberapa candi di zona utama, serta kanal-kanal kuno. Kalau boleh jujur, saya lebih tertarik mengabadikan foto-foto candi kuno dibanding mendengar cerita sejarah dari si pemandu wisata.
Β
Sampai akhirnya kami sampai di kolam Telago Rajo. Kemudian saya mendengar percakapan antara si pemandu wisata dengan Mas Eko, pendamping tim kami. Mereka sedang asik berbincang tentang konflik antara masyarakat setempat dengan perusahaan batu bara dan perusahaan kelapa sawit di daerah tersebut. Hingga akhirnya rasa penasaran saya membawa saya masuk dalam perbincangan mereka. Si pemandu wisata yang belakangan saya kenal namanya Borjoe ini ternyata saat ini sedang berusaha memperjuangkan hak-hak masyarakat setempat yang sering diabaikan oleh perusahaan-perusahaan batu bara dan kelapa sawit. Seketika itu juga, saya kagum dengan sosok Borjoe yang rela berjuang bagi orang banyak.
Β
Perjalanan saya di kawasan Candi Muara Jambi berikutnya banyak dihabiskan dengan mengobrol bersama Borjoe. Pemuda yang ternyata lulusan IAIN ini memutuskan untuk kembali ke desa setelah menyelesaikan kuliahnya. Alasannya sederhana, ia ingin membangun desanya. Apalagi ia sangat cinta dengan kawasan Candi Muara Jambi yang menjadi kebanggaan masyarakat desanya. Sudah sejak SMA, ia banyak menghabiskan waktunya di area kawasan candi hingga ia mampu mengenali setiap detil situs candi tersebut. Awalnya, ia sempat dikira orang aneh oleh masyarakat setempat karena banyak menghabiskan waktu di kawasan candi bersama anak-anak bermain tari topeng. βSaya sering dibilang kurang kerjaan sama orang-orang, tapi biarlah yang penting saya bisa mengajarkan anak-anak untuk cinta budaya sendiri,β tutur Borjoe malu-malu.
Β
Kemudian Borjoe bercerita tentang Balai Kreasi Pemuda Candi Muara Jambi yang ia bentuk bersama teman-temannya pada tahun 2006. Belakangan, Balai Kreasi Pemuda yang digawangi Borjoe mendirikan sekolah terbuka bagi anak-anak desa setempat. Melalui sekolah ini, ia ingin memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak mengenai seni dan budaya Indonesia, terutama tentang Candi Muara Jambi. Saat ditanya siapa saja yang mengajar di sekolah tersebut, Borjoe menjawab, βSekarang sih cuma saya sendiri, yang lain belum ada lagi yang bisa.β Saya cuma bisa terdiam dan berdecak kagum. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya harus menangani 70 anak seorang diri.
Β
βSiapapun adalah guru dan alam raya sekolahku,β cerita Borjoe dengan bangga memperkenalkan semboyan sekolah terbukanya. Dari semboyan itulah, sekolah tersebut diberi nama Sekolah Alam Raya. Sesuai dengan namanya, kegiatan sekolah ini tidak hanya belajar, melainkan dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan menarik yang dapat mendekatkan diri dengan alam. Misalnya, ia pernah membuat acara yang bertajuk βHijau Desaku, Sungai Batanghari Bukan Tempat Sampah Besarβ. Melalui acara tersebut, Borjoe menitipkan pohon-pohon ke setiap anak didiknya untuk ditanam di sekitar rumahnya. Kemudian ia mengajak anak-anak didiknya untuk melakukan pembersihan kawasan candi dengan memungut sampah-sampah yang berserakan, termasuk di berbagai event yang sering diadakan di kawasan candi. Dari sini anak-anak diharapkan dapat memahami pentingnya kebersihan sehingga dapat mengedukasi orang-orang rumahnya agar tidak membuang sampah di Sungai Batanghari.
Β
Dalam sekolah gratisnya, Borjoe juga mengusahakan seragam gratis bagi para anak didiknya. Sejauh ini ia baru mampu mengadakan seragam gratis untuk 50 anak dari 70 anak didiknya. Seragam gratis ini dimaksudkan untuk merangsang minat belajar para anak didiknya. Selain itu hal ini diharapkan juga dapat menjadi kritik bagi pemerintah setempat yang selalu meminta dana yang tidak murah untuk setiap fasilitas pendidikan. Saya penasaran, dari mana ia mendapat dana untuk semua ini. Kali ini jawaban Borjoe benar-benar membuat saya terharu. βPakai duit saya sendiri,β katanya.
Β
Tak terasa perjumpaan kami dengan Borjoe pun harus segera berakhir. Sebelum kami beranjak pulang, Borjoe memberi kami sebuah kerajinan dari kulit karet sebagai oleh-oleh. Pesannya, βIni karya dari anak-anak Muara Jambi buat kenang-kenangan.β Dengan segala keterbatasannya, Borjoe bisa menjadi sosok inspiratif bagi anak-anak Muara Jambi, bahkan bagi pemuda Indonesia di penjuru negeri lainnya untuk terus berkarya bagi masyarakat.
Β
Perjalanan kali ini benar-benar membuka mata saya bahwa saya belum melakukan apa-apa untuk bangsa ini. Bahkan seorang pemandu wisata pun bisa bicara soal perjuangan dengan bahasa yang lebih nyata.












































Komentar Terbanyak
Lagi, Finlandia Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia Sejagat
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran
Bule Swiss Ejek Nyepi di Bali, PHDI Buka Suara