Dan kami pun tiba di Hotel Rasen, hanya beberapa menit saja dari Bandara Sentani. Kami menuju ke hotel ini dengan taksi dari pintu keluar MAF.
Sejam kemudian, saya, Harley dan Bang Leo mencari makan siang. Akhirnya setelah beberapa menit kami menemukan rumah makan yang sangat nyaman, di tepi danau Sentani.
Papeda, ikan mas kuah kuning, kakap bakar, cumi goreng tepung, plus tumis bunga pepaya menjadi santapan lahap kami. Tak lupa sebelumnya, sajian sup asparagus yang lezat dan mengundang selera berhasil kami habiskan masing-masing dua mangkuk. Antara enak dan lapar, mungkin efek baru keluar hutan Korowai dua hari sebelumnya yang tentunya sangat jauh dari yang namanya rumah makan.
Memang kali ini giliran lidah dan perut saya yang merasakan kenikmatan dan pesona Papua yang penuh kelezatan, tiada bandingannya. Sambil menikmati semilir angin di atas eloknya panorama Danau Sentani.SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya lidah dan perut, mata pun terbuai kenikmatan setara. Indahnya Danau Sentani, nikmatnya Papeda, renyahnya Cumi Goreng Tepung khas Sentani yang crunchy. Ditambah eksotisnya tumis bunga pepaya dan lezatnya sup asparagus. Tak puas dengan itu semua, kedahsyatan rasa ikan mas kuah kuning sangatlah memanjakan hidup bagai para raja.
Sentani yang indah di minggu ketiga bulan Oktober 2010, sebuah petualangan mata dan lidah yang tak terlupakan. Terima kasih, Sentani, terima kasih Papua, terima kasih Indonesia. Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu Tuhan...












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru