Salam petualang! Tepat pada hari ke 28, bulan September 2010, perjalanan hari kedua kami di Provinsi Kep. Riau akan menuju objek wisata situs purbakala Bukit Kerang di kawasan Kampung Kawal- Pulau Bintan. Jarum jam menunjukkan pukul 12.00 siang, kami pun segera Check-Out dari Resort Bintan Lagoon. Sayup-sayup bunyi perut terdengar sebagai pertanda untuk santap siang.
Tak lama, sang pemandu datang menjemput kami untuk membawa kami ke Bukit Kerang. Perjalanan pun akan ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Liuk Gunung Bintan dan bentangan hutan menemani kami selama perjalanan.
Warung makan pun terlihat dari kejauhan, "Pak, mampir dulu ke warung tersebut," ucap saya seraya memohon karena kelaparan. Kami pun langsung menuju meja makan yang tersedia, Bungkusan hijau yang di bawa pelayan langsung menyambut kami. "ini otak-otak khas daerah Kawal," ujar sang Pelayan.
Tanpa pikir panjang, kami yang sedang dilanda lapar, langsung membuka bungkus otak-otak tersebut. "hah?" ucap Darto yang merasa aneh karena melihat bentuk otak-otak tersebut yang berwarna merah. "Iya, otak-otak di sini berwarna merah karena sudah dibaluri bumbu sambal, " jawab si Pelayan sambil bersenyum.SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otak-otak khas Bintan memang terlihat unik, karena otak-otak pada umumnya berwarna putih. Bahan bakunya pun berbeda, jika di Jakarta kita sering melihat otak-otak ikan tenggiri, di Pulau Bintan berasal dari ikan parang. Aroma ikan yang diwarnai dengan pedasnya bumbu sambal, membuat otak-otak ini berbeda dengan yang otak-otak yang sering saya jumpai di Jakarta.
Sang pelayan pun menyodorkan menu. Dan, nasi goreng Seafood menjadi pilihan kami. suasana yang panas, membuat kami ingin memesan minuman yang segar. Bolak-balik lihat menu, kami tidak menemukan tulisan es teh manis, mata saya pun tertuju pada menu aneh yang bertuliskan, "Teh Obeng."
Darto pun terkejut melihat menu tersebut. kami pun berpikir aneh, karena "obeng" adalah benda perkakas. "Mungkin tehnya diaduk pakai obeng?" ucap Darto dengan mimik sok tahu. daripada penasaran, aku pun bertanya pada pelayan tentang teh "obeng" tersebut.
"Kalau di Bintan, kami biasa menyebut es teh manis dengan sebutan teh obeng, rasa-nya pun sama seperti es teh manis yang kita jumpai pada umumnya," ucap si Pelayan. jawaban tersebut membuat kami merasa lega, karena kami tidak mau meminum teh yang berbahan dasar alat perkakas. "Teh obeng diadopsi dari bahasa cina, yaitu teh openg. Akan tetapi, karena orang-orang Bintan lebih banyak menyebut teh obeng, makanya sampai sekarang pun warga Bintan biasa menyebut dengan nama teh obeng," kata si Pelayan.
Santap makan pun telah usai, perjalanan kami akan dilanjutkan ke Bukit Kerang, kira-kira waktu yang akan ditempuh dari warung tersebut, berkisar satu jam. Minim-nya informasi dan tidak ada rambu penunjuk menuju Bukit Kerang membuat kami harus bertanya pada warga setempat. Akses jalannya pun tergolong buruk, jalan tanah yang berlubang membuat mobil kami mengalami goncangan besar.
"Ini mah jalanan Off Road," kata Darto sambil menggerutu. Ya, untuk menuju Bukit Karang kami harus menempuh jalan tanah yang berada di perkebunan kelapa sawit sejauh 5-7 km. "Kalau pakai sedan, kita pasti sudah terperangkap di lubang-lubang ini," ujar sang Supir.
Setelah digoncang selama 30 menit, kami pun berhasil sampai di Bukit Kerang. Rasa kagum dan takjub merasuki pikiranku karena bukit kerang ini adalah sebuah bukit yang berasal dari kumpulan-kumpulan kulit kerang dan membentuk sebuah gundukan bukit setinggi 5-7 meter. Rasa tanya pun mengundang kami.
Tak lama ada petugas yang menghampiri kami. Sang petugas pun langsung menjelaskan kepada kami tentang bukit kerang ini. Menurut dia, bukit kerang ini adalah sampah dapur dari manusia-manusia zaman prasejarah.
"Tapi ada juga yang berpendapat, bahwa Bukit Kerang ini, merupakan muntahan dari hewan laut zaman prasejarah, seperti dinosaurus," ujar sang Petugas. Ia, juga menambahkan bahwa hampir tiap bulan selalu ada wisatawan asing atau arkeolog yang mengunjungi tempat ini. "Sedangkan wisatawan lokal, minim sekali yang datang ke sini," gerutu sang Petugas. Minim-nya promosi dan akses yang buruk, membuat daerah situs purbakala ini jarang diketahui oleh para wisatawan.
Pandangan kami pun tertuju pada lubang besar yang ada di Bukit Kerang tersebut, dan dengan sigap petugas langsung menghampiri kami dan menjelaskan tentang lubang tersebut. "Lubang ini adalah galian yang dilakukan pada jaman kolonial Belanda dengan tujuan ingin mencari tahu apa yang ada di dalam Bukit Kerang tersebut," ucap Petugas. "Namun sayang, si Penggali sakit dan meninggal pada saat penggalian, sehingga cerita misitis itu pun tersebar," tambahnya.
Waktu kunjungan ke Bukit Kerang pun sudah harus kami akhiri, karena kami masih banyak agenda lain, "Oke, kita akan Off Road lagi," ucap Darto sambil menunjukkan mimik kesal.
Rivki|188|KEP. RIAU|12
Otak-Otak Ikan Parang, Teh Obeng, dan Bukit Kerang
Rabu, 10 Agu 2011 12:07 WIB
Redaksi Detik Travel
Jakarta -












































Komentar Terbanyak
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?
Timur Tengah Memanas, Ribuan Penumpang Kapal Pesiar Gagal Berlayar