Tersembunyi di antara ragamnya kekayaan tradisi leluhur Tenganan, ada satu alat musik tradisional Bali yang biasa dimainkan oleh para tetua. Terbuat dari kayu aren dan bambu, alat musik itu bernama Genggong. Tidak ada tangga nada yang tersimpan di sana, nada yang dihasilkan murni berasal dari tehnik pernapasan, meniup dan menarik udara, melalui celah dari kayu aren.
Salah seorang warga senior Tenganan yang kami temui, memperlihatkan koleksi Genggong yang dimilikinya. Meski pada umumnya alat musik ini terbuat dari kayu aren dan bambu untuk pegangan yang menentukan besar-kecilnya volume suara, tapi beberapa Genggong istimewa, pegangannya bisa terbuat dari tulang kerbau. Bapak itu memiliki 2 buah Genggong yang terbuat dari tulang kerbau berumur 80 tahun, hasil peninggalan turun temurun keluarganya.
Walaupun alat musik ini terkesan sederhana, tapi penggunaannya tidak sesederhana penampilannya. Perlu pembelajaran khusus bagaimana mengolah pernapasan melalui Genggong agar nada yang dihasilkan lebih berirama. Jika mendengar untuk pertama kali, suara yang dihasilkan dari alat musik ini memang terkesan aneh dan tak bernada, tapi keahlian pemainnya bisa menghasilkan suara indah nan unik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Genggong memang dikenal sebagai alat musik tradisional yang dimainkan para tetua untuk mengisi waktu luangnya. Kini alat musik itu semakin jarang digunakan, tapi keberadaannya tetap lekat di hati para tetua penduduk desa Tenganan. Mereka masih menyimpan peninggalan keluarga itu dengan baik, bahkan beberapa di antaranya masih memproduksi alat musik ini untuk dijadikan koleksi bagi para wisatawan yang datang ke Tenganan. Meski jarang digunakan, Genggong masih ada dan belum terlupakan.











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA