Nggih nate wonten ingkang tilar, demikian bu Suwarni menceritakan nasib naas yang dialami rekannya saat mencari enthung. Bu Suwarni dan para pencari enthung ini pun seakan sudah mafhum jika suatu saat, akan bertemu dengan ular. Karena memang enthung hanya bisa ditemui di hutan jati. Enthung adalah sebutan untuk kepompong ulat jati yang bisa ditemui setahun sekali, yaitu di musim penghujan.
Ulat-ulat dari pohon jati ini setelah menjatuhkan diri dari atas pohon, selanjutnya akan berkepompong di atas tanah. Dengan memanfaatkan lapisan luar yang lekat, tanah ataupun kerikil akan lekat dan sekaligus sebagai kamuflase. Nah, untuk mencari enthung ini, para pencari enthung ini harus jeli mengorek setiap jengkal tanah, dan membalik balik daun jati yang jatuh di tanah. Bukan tak mungkin, yang ketemu bukan enthung tapi ular.
Namun itupun tidak menyurutkan langkah bu Suwarni untuk mendapat rejeki musiman ini setahun pisan, mas, demikian kilahnya. Perjalanan jauh dari Wonorejo ke Cabak pun dilakoni. Di Cabak, sekitar 50an pencari enthung sedang asyik berburu dari pagi hingga sore menjelang. Berbekal caping dan wakul kecil mereka mencari jengkal demi jengkal. Sesekali mereka bersenda gurau untuk menghilangkan rasa lelah. Rasa lelah seakan terobati jika ada pembeli yang datang, apalagi jika enthung mereka diborong. Harga pasaran enthung saat ini berkisar dari 25 ribu hingga 50 ribu. Jika anda tertarik untuk mencobanya, anda bisa mencari para pencari ini di daerah tepian hutan antara Cepu, Randublatung dan Blora.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5