Kami beruntung karena saat kami singgah di P. Wangi-wangi, sedang ada acara adat Kabuenga. Inti acara ini adalah menceritakan bagaimana sepasang kekasih bermesraan. Sang wanita akan duduk manis sementara sang lelaki akan menyuapi dengan kuliner khusus. Lalu sang wanita akan duduk di ayunan sementara sang lelaki mendorongnya. Sekarang ada sedikit variasi. Pasangan kekasih ini diwakilkan oleh sekelompok remaja desa. Sedang ayunannya dibuat besar dan hanya digunakan sebagai simbol.
Kabuenga kali ini diadakan di Desa Wapia pia. Saat kami hadir warga sudah sibuk berkumpul di lapangan dengan sebuah ayunan besar terbuat dari bambu dan janur. Dan rupanya bukan hanya kami yang tertarik untuk meliput acara tersebut. Karena ada satu tim besar pembuat film dari Jakarta yang turut hadir dan mendokumentasikan prosesi ini. Kebetulan filmnya bertema romantis dengan latar belakang kebudayaan suku Bajau.
Yang menarik mata saya tentunya adalah dandanan para gadis Wapia-pia. Semua terlihat cantik dengan baju adat, atau disebut Baju Wolio, lengkap dengan aksesorisnya. Sang remaja cantik terkonde yang disebut panto. Aksesorisnya mulai dari anting, gelang atau keronco, dan ikat pinggang keemasan. Kain tenun adat juga dilengkapi dengan benang-benang keemasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru