Kau Mati, Aku Potong Jari
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sukma Kurniawan|4272|PAPUA 2|28

Kau Mati, Aku Potong Jari

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Kamis, 10 Mar 2011 10:48 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Sebuah lukisan karya Nancy, di lobby Hotel Baliem Pilamo. Bercerita tentang upacara potong jari pada Suku Dani.
Seorang nousa (wanita tua) menunjukkan jarinya yang hampir habis terpotong.
Kau Mati, Aku Potong Jari
Kau Mati, Aku Potong Jari
Jakarta -

Saat wanita lain sedang sibuk mengangkuti batu panas dengan sebuah bilah kayu yang yang dibelah, nousa (ibu tua) itu tampak diam saja. Dia sebetulnya sangat ingin ambil bagian dalam acara pesta ini, tapi sudah tidak mungkin lagi baginya untuk mengangkat banyak hal. Tangannya cacat, hampir seluruh jemarinya hilang. Jika saja tidak disisakan seiris jempol di kedua tangannya, maka bisa jadi banyak orang yang mengira itu bukanlah sepasang tangan manusia.

Jari jemari nousa yang kesepian itu adalah sebuah sejarah panjang yang bercerita tentang kehilangan. Tentang orang-orang tersayang yang pergi, menyisakan sang nousa sendiri.

Cacat tangan itu memang sesuatu yang disengaja. Disebut ikipalin (adat potong jari), jika ada seseorang yang kau sayangi mati, maka potonglah jarimu satu dua biji. Itu melambangkan sebuah duka yang mendalam. Rasa sakitnya ditinggal pergi ibaratnya sampai ujung jari. Daripada sakit terus menerus, maka lebih baik dihilangkan saja, dipotong dengan kapak batu yang tidak terlalu tajam, namun bisa membuat ujung jari remuk remas jika dihunjamkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saya tidak bisa membayangkan sakitnya. Jika pada abad pertengahan, di Eropa orang sudah mengembangkan guillotine (alat penggal kepala) untuk meminimalisir rasa sakit. Maka itulah hebatnya Suku Dani, yang hingga hari ini tidak memiliki evolusi berarti untuk sekedar alat potong jari.

Darah yang mengucur dari ujung jari yang terpotong dibebat dengan daun yang sebelumnya sudah diolesi dengan ramuan tradisional. Menghilangkan rasa nyeri juga risiko terinfeksi dan borok jika dibiarkan terbuka.

Sebuah lukisan realis di lobby hotel Baliem Pilamo mengandaikan proses ini dengan sangat menarik. Lukisan kisah penciptaan dalam Bibel yang terkenal digambar ulang. Tampak dua tangan milik Adam dan Tuhan yang bersatu, seperti lambing connecting people milik Nokia. Hanya saja telunjuk Adam hilang terpotong dan diperban dengan daun dan kulit rotan. Ini adalah mop, lelucon khas Papua.Β Β 

β€œDua jari ini hilang karena adik saya mati dalam perang,” kata Nousa menunjuk jari manis dan kelingkingnya. β€œKalau dua ini saya potong karena suami saya meninggal, saya sedih sekali,” lanjutnya memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya.

Tradisi yang mengerikan ini memang sudah berjalan selama ribuan tahun. Bisa jadi suatu saat para arkeolog masa depan banyak menemukan jari jemari tanpa tangan di bawah lapisan tanah Wamena. Bukti peradaban Suku Dani pernah tinggal di atasnya. Saya pikir, dengan banyaknya jumlah perang suku yang terjadi selama ini, pasti banyak ibu dan istri yang potong jari.

Saya bergidik, tiba-tiba teringat makanan Sup Ceker Kuah Cengkeh yang sangat enak jika dimakan malam-malam.

Tapi sebetulnya potong jari ini hanyalah satu alternatif dalam berkabung. Dalam tradisi Suku Dani, banyak cara yang bisa ditunjukkan untuk mengunggkapkan duka. Cara yang lain adalah potong telinga, lebih mengerikan bukan.

Saya melihatnya saat trekking di Kurima, seorang jamaat gereja Hulesi terlihat tidak memiliki dua cuping telinga. Menurut pengakuannya, itu merupakan bentuk belasungkawa terhadap anaknya yang mati lebih dulu. Sebetulnya ini lebih mengerikan dari potong jari. Saya jadi bersyukur tradisi ini tidak ada di Sunda, karena Tuhan menciptakan banyak perempuan rupawan di dalamnya.

Cara lain untuk mengutarakan kesedihan pada Suku Dani adalah dengan melumuri tubuh dengan lumpur sungai. Bang Herman menunjukkan saya seorang wanita yang mukanya penuh lumpur berwarna kuning saat upacara bakar batu,”Suaminya baru saja meninggal, Sukma,” kata Bang Herman menjelaskan.

Bagi keluarga yang sedang berduka, maka pantang untuk pergi jauh dari desa. Masa berkabung ini hanya diisi dengan mendekam diri. Seminggu dua minggu atau lebih. Minggu selanjutnya sudah bisa keluar kampung, tapi dengan tujuan yang tidak jauh. Dilakukan bertahap hingga rasa sedih hilang dan sudah bisa beraktivitas lagi dengan normal.

Begitulah tata cara berbela sungkawa pada Suku Dani. Maka jika aku mati, silahkan kau potong jari.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads