Malam ini, dari Tanjung Lesung, saya dan Bella langsung berangkat ke BSD City. Tepatnya ke Teraskota. Jadwal kami kali ini adalah datang ke acara Jajan Jazz. Saya hanya tahu sedikit soal acara ini; hanya sebatas pada ini adalah acara nonton jazz di tempat yang santai dengan suasana yang komunikatif. Kalau mau dibayangkan, mungkin acaranya se-'intim' akustikan di D'Place Citos.
Acara sudah dimulai pukul 20.00, tapi kami baru sampai di Teraskota pukul 21.00. Telat karena terjebak macet. Ah, alasan yang sangat mainstream. Tapi, tidak masalah karena ternyata si Jajan Jazz masih berlangsung.
Dengan konsep outdoor, Jajan Jazz asyik meramaikan Teraskota. Tahu Teater Kolam FISIP? Seperti itulah kira-kira bentuk 'stage' di tengah-tengah Teraskota. Dan, di depan sana, Ari Tuledo terlihat membetot-betot senar. Setelah sempat bagai ayam kehilangan induk, akhirnya oleh humas Sinarmas, Bang Anton, saya digiring untuk diperkenalkan kepada Andrie Irawan dan Yunus Arifin, penggagas Jajan Jazz. Aih...
Mengambil tempat di teras Bengawan Solo Coffee, kami ngobrol soal macam-macam, utamanya Jajan Jazz. Jadi, bisa dibilang ini adalah sebuah komunitas di BSD City. Awalnya, ini terbentuk pada 10 Maret 2010 oleh para penikmat musik dan musisi jazz yang kerap kumpul bareng karena rumahnya sama-sama di Komplek Nusaloka. Pada 10 Maret 2006, Jajan Jazz mulai berjalan. Kenapa dinamakan Jajan Jazz? Sebab, awal kegiatan ini diadakan di Taman Jajan Sektor 1.3.
Saya dan Bella tidak terlalu menyimak Ari Tuledo menampilkan lagu apa-apa saja. Kami terlalu asyik tanya-tanya kepada Pak Andrie. Kata Pak Andrie, perhelatan Jajan Jazz selalu malam, biasanya malam minggu di Taman Jajan. Kalau untuk di Teraskota kala itu, mereka diundang oleh pihak Teraskota.
Berkeinginan untuk mengundang artis luar negeri, tanya saya. Mereka tergelak, dan akhirnya 'bocor'. Ada kendala panitia Jajan Jazz, yaitu berkisar seputar dana (ah, standar). Dulu, awal-awal kemunculan, mereka selalu membayar ana-ini lebih banyak dari kantung sendiri. Untunglah, sekarang mulai ada donatur atau sponsor. Intinya, mereka belum kepikiran untuk membayangkan Jajan Jazz akan se-'serius' Java Jazz atau Jazz Goes to Campus.
Tak terasa, pukul 23.00 datang. Jajan Jazz malam itu kelar. Langsung saja setelahnya Pak Edy mengantarkan kami ke Hotel Sofyan Cikini Jakarta, tempat kami istirahat. Wah, malam ini jadi lebih santai setelah menikmati jazz. (travel/travel)












































Komentar Terbanyak
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal
Bukan Hanya Wisatawan, Menkes Juga Merasa Berat Bayar Tiket Pesawat
Terpopuler: Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal