Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 26 Jan 2022 17:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menengok Warisan Budaya Tionghoa di Tangerang

Santy
d'Traveler
Museum Benteng Heritage
Museum Benteng Heritage
Boen Tek Bio
Boen Tek Bio
Museum Benteng Heritage
Museum Benteng Heritage
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Artikel Sosok Azmi Abubakar
Artikel Sosok Azmi Abubakar
detikTravel Community -

Pasar Lama ternyata bukan sekadar tempat kulineran yang digemari, namun ada kisah di balik jalan, rumah, kelokan pasar, hingga stasiun kereta di kawasan itu. Kawasan Pasar Lama dan sekitarnya dikenal sebagai 'titik nol' Tangerang.

Di sana, pengaruh budaya Tionghoa terlihat mulai dengan bangunan rumah, toko, jajanan makan, musik, hingga masjid mirip pagoda. Di sekitarnya juga ada bangunan tua, yaitu klenteng umat Konghucu, Budha, dan Tao, yaitu Boen Tek Bio.

Dari kawasan Pasar Lama menuju Boen Tek Bio menyusuri jalan sempit, cukup dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Boen Tek Bio dibangun sekitar akhir abad ke-17 atau awal abad ke-18.

Saya masuk ke bangunan tersebut, melihat orang-orang khusuk beribadah dengan mengangkat hio dan menundukkan kepala. Asap hio memenuhi ruangan dengan aroma yang harum. Di sisi bangunan lain ada sebagian orang tampak berbincang satu dengan yang lain. Saya duduk sambil membeli sebotol minuman. Setelah minum, saya berjalan menuju sisi yang lain.

Saya melihat ada beberapa orang tempat beribadah dengan bersujud. Ada tong pembakaran kertas dekat mereka. Saya masih ingin berkeliling memperhatikan beberapa benda yang menarik perhatian, tetapi hujan turun cukup deras. Saya duduk dekat tong pembakaran kertas, sambil melihat para pengunjung sigap mencari tempat berteduh.

Tak jauh dari tempat itu, cukup berjalan kaki, saya sampai di Museum Benteng Heritage. Awalnya museum tersebut adalah rumah tinggal yang dibangun pada pertengahan abad ke-117. Udayana Halim kemudian membelinya pada tahun 2009.

Rumah itu direstorasi menjadi museum pada November 2011. Saya ditemani oleh seorang petugas melihat banyak koleksi benda bersejarah. Di museum tersimpan begitu banyak benda bersejarah yang menceritakan kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan membawa 30.000 pengikut.

Sebagian dari rombongan tersebut dipimpin oleh Chen Ci Lung yang diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (Cina Benteng) yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407. Sebutan Cina Benteng merujuk pada nama lain kota Tangerang, yaitu Benteng, yang dibangun oleh VOC di bagian Timur Cisadane.

Dari banyaknya benda bersejarah yang ada di museum, mata saya tertuju pada sepatu berukuran kecil. Sepatu berukuran kecil yang dipakai perempuan Tionghoa. Saya membayangkan bagaimana menderitanya perempuan kala itu memakai sepatu kecil dengan cara mengikat kaki, bahkan mematahkan jari mereka, sehingga sepatu tetap bisa dipakai.

Cara itu dilakukan para perempuan sebagai simbol status dan mendapatkan suami yang lebih baik. Kondisi kaki yang sangat rapuh itu jelas tidak dapat membuat perempuan leluasa berjalan. Mereka dipaksa melakukan aktivitas dengan duduk diam. Aktivitas yang dilakukan para perempuan juga bernilai ekonomi untuk keluarga. Saya bergidik membayangkannya.

Benda lain yang menarik perhatian adalah pipa yang digunakan sebagai penghisap candu. Nusantara pada abad ke-17 melakukan praktik jual beli candu/opium secara bebas. Menghisap candu/opium bukan saja menjadi gaya hidup kelas sosial atas, melainkan juga kelas bawah.

Uang hasil penjualan dapat menggerakkan perekonomian, sekaligus ada efek buruk yang ditimbulkan. Kelas sosial bagian bawah yang mendapat upah kecil, menghabiskan sebagian upah untuk membeli opium/candu. Dari kawasan Pasar Lama, saya melanjutkan perjalanan ke kawasan BSD-Serpong menuju BSD-Serpong yaitu menuju Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Museum Pustaka Peranakan Tionghoa didirikan oleh Azmi Abubakar pada tahun 2011. Azmi Abubakar adalah seorang berdarah Gayo-Aceh. Saya tertarik mengunjungi museum yang didirikan oleh orang Aceh yang menyimpan banyak literatur peranakan Tionghoa. Namun, saat saya berkunjung ke museumnya, bang Azmi (demikian disapa) tidak berada di lokasi.

Saya masuk dalam museum dan melihat ada begitu banyak literatur. Di museum ada petugas yang menjelaskan bahwa bang Azmi mengumpulkan sekitar 40.000 literatur sejak tahun 1999. Bang Azmi termotivasi mengumpulkan literatur sejarah setelah kerusuhan etnis di Jakarta tahun 1998. Tujuannya adalah mengingatkan kontribusi etnis Tionghoa terhadap bangsa ini.

Di museum ini saya mendapat informasi yang saya tidak ketahui tentang kontribusi etnis Tionghoa, seperti Laksamana Jhon Lie, Kapiten Sepanjang, dan masih banyak lagi. Salah satu yang menarik perhatian saya di museum itu adalah papan tanda pengenal sekolah swasta modern pertama di Batavia, yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Kwan pada tahun 1900-an.

Rasanya saya membutuhkan beberapa kali datang berkunjung agar dapat melihat semua literatur dan benda bersejarah lainnya. Museum ini membuat mata saya terbuka betapa Tangerang tak bisa dilepaskan dari kehadiran dan peran etnis Tionghoa.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA