Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 03 Feb 2022 14:58 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pesona Danau Maninjau yang Perlu Diselamatkan

Dedy Rahmat Nurda
d'Traveler
Danau Maninjau di kala senja
Danau Maninjau di kala senja
Air beriak dalam kabut senja
Air beriak dalam kabut senja
Tambak jala apung di  tepian
Tambak jala apung di tepian
Tepian Danau menjelang malam
Tepian Danau menjelang malam
detikTravel Community -

Suasana temaram senja mewarnai perjalanan pulang ke kampung halaman petang hari itu. Remang-remang cahaya peralihan dari sore hari menuju gelap malam, cuaca pun sedikit berkabut tipis, menambah sendu suasana kala itu.

Dalam sunyi, kendaraan mungil kami terus meliuk-liuk, merayap pelan menuruni lereng bukit berkelok-kelok dengan tikungan tajam disepanjang hampir 7 km yang termasyhur namanya dengan sebutan kelok 44 itu.

Dari ketinggian, matahari yang wujudnya bersembunyi dibalik awan, cahayanya tampak menembus disela-sela gumpalan-gumpalan awan menghitam yang bergerombol menggantung di atas muka air danau yang terlihat menggenang di sebuah cekungan alam yang terbentang maha luasnya.

Bak wajan raksasa yang tergenang, sorot cahaya keemasan itu memantul di permukaan danau yang beriak-riak kecil, menghasilkan kerlip-kerlip berwarna emas keperakan yang berkilauan seolah kilatan ribuan lampu blitz yang menyambut kedatangan kami tatkala kendaraan memasuki belokan terakhir dan menurun menuju permukaan danau.

Di keremangan cahaya, gugusan bukit yang berkeliling di sepanjang danau tampak menghitam. Membuat suasana terasa semakin mistis seolah terlihat seperti seekor naga raksasa yang melilit melingkari tepian telaga besar itu.

Inilah Danau Maninjau, sebuah danau vulkanik yang konon kabarnya tercipta dari letusan sebuah gunung purba. Letusan maha dahsyat yang terjadi ribuan tahun silam itu menghasilkan sebuah cekungan besar kaldera yang kemudian digenangi oleh jutaan kubik air. Sebuah kisah penciptaan yang terdengar tak jauh berbeda dengan asal mulanya Danau Toba.

Danau yang terletak sekitar 30 km sebelah barat Kota Bukittinggi atau tepatnya berada di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam itu, adalah danau terbesar kedua yang ada di Sumatera Barat, setelah Danau Singkarak yang berlokasi di Kabupaten Tanah Datar. Keindahan dan kemegahannya tak terbantahkan.

Perpaduan antara alamnya yang elok, air yang jernih dan udaranya yang sejuk, menjadi tanah tempat berpijak bagi masyarakatnya ramah dan agamis.

Sungguh menjadi simfoni yang sempurna untuk melahirkan orang-orang hebat. Maka patutlah kiranya, tepian danau yang indah ini mampu melahirkan pujangga sekaligus ulama besar sekaliber Buya Hamka yang tersohor di Nusantara.

Namun dibalik segala kesempurnaanya, sungguh sayang tersimpan beberapa kelemahannya. Potensi alamnya sungguh luar biasa, namun tidak digarap secara maksimal.

Belum ada fasilitas untuk bersantai dan berwisata yang representatif dan benar-benar mumpuni, yang ditunjang oleh fasilitas lengkap untuk rekreasi keluarga.

Hanya ada beberapa spot lokasi untuk bersantai tersedia, diantaranya Linggai Park dan kawasan taman PLTA Muko-muko, namun sekali lagi belum maksimal penataan dan pengelolaannya.

Selebihnya adalah titik-titik lokasi yang dibuka bukan untuk umum, karena dimiliki dan dikelola swasta yang merupakan bagian dari hotel atau penginapan (homestay).

Belum lagi adanya ribuan petak tambak jala apung yang oleh masyarakat setempat disebut dengan "Karamba", nyaris memenuhi sepertiga radius danau.

Sepanjang mata memandang, keindahan danau hampir tertutupi oleh deretan tambak yang berbaris berkeliling disepanjang tepian danau. Meski secara hitung-hitungan ekonomi kehadiran tambak-tambak karamba ini mampu mendongkrak pendapatan masyarakat, namun secara keberlangsungan ekosistim alamiah danau sangat mengkhawatirkan.

Sudah jamak terjadi setiap tahunnya, kematian ribuan ton ikan tambak yang diakibatkan oleh keracunan gas belerang maupun keracunan gas amoniak hasil dari residu sisa-sisa makanan yang mengendap ke dasar danau.

Jika hal ini terjadi, maka jadilah kawasan danau itu akan menyebarkan bau busuk anyir menyengat akibat ratusan ribu ikan mati yang mengambang di permukaan danau.

Hal ini berulang dan terus berulang terjadi, meski berulang kali pula himbauan untuk mengurangi jumlah tambak apung didengungkan oleh pemerintah setempat.

Maka jadilah kiranya untuk menikmati keindahan danau ini, pengunjung mesti berpandai-pandai untuk memilih waktu dan lokasi yang nyaman dan tepat.

Seperti halnya hari ini, kami menikmati "sekeping surga" ini dari sebuah pelataran belakang mesjid yang bercorak tradisional, yang halaman belakangnya persis berbatasan dengan tepian danau.

Hembusan angin yang kuat menerpa wajah, tercipta oleh tiupan dari tengah-tengah telaga raksasa yang kerlap-kerlip, cahaya keemasan hasil dari pantulan cahaya mentari senja di riak danau itu sungguh menggugah kerinduan.

Kerinduan akan Danau Maninjau yang kembali bersih alami, asri dengan udaranya yang segar dan airnya yang jernih. Maka patut didukung kiranya Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) berdasarkan Perpres Nomor 60 Tahun 2021, telah menetapkan Danau Maninjau ini termasuk dalam 15 danau prioritas nasional yang perlu segera diselamatkan, untuk mengembalikan kondisi serta fungsi danau seperti semula.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA