Di Pusat Budidaya dan Konservasi Laut Pulau Tidung Kecil, terdapat beberapa biota laut yang dibudidayakan, di antaranya ikan nemo dan kuda laut. Jenis nemo yang dibudidayakan terdiri dari dua tipe, yakni nemo alami dan nemo hybrid atau hasil persilangan.
Untuk nemo alami, jenis yang ada berasal dari wilayah Kepulauan Seribu, seperti amphiprion dan premnas yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai 'nemo balong' karena ukurannya lebih besar.
Ubay, teknisi ekosistem Pulau Tidung Kecil, menjelaskan bahwa ruang budidaya dijaga ketat, terutama dari segi suhu.
"Suhu di ruangan budidaya ikan nemo dan kuda laut dibatasi. Jadi yang boleh masuk maksimal hanya 10 orang," ujar Ubay kepada detiTravel, Jumat (28/11/2025).
Ruang budidaya ini tidak dibuka untuk aktivitas wisata atau swafoto. Hanya peserta yang benar-benar ingin belajar mengenai budidaya nemo dan kuda laut yang diperbolehkan masuk.
"Ruangan ini (nemo) kami buka untuk masyarakat yang ingin edukasi yang bersurat biasanya dari universitas, dan kalau sekedar foto-foto saja tidak boleh, tapi biasanya kalau wisatawan dari Disparekraf kami bawa ke sini," jelas Ubay.
Beberapa biota laut yang dibudidayakan di lokasi ini akan dilepas kembali ke laut sebagai bagian dari program restocking ekosistem Kepulauan Seribu. Namun, jenis nemo hybrid tidak boleh dilepas ke alam karena dapat merusak keanekaragaman hayati.
Nemo yang siap dilepas memiliki ukuran di atas 3 cm atau berusia sekitar tiga bulan setelah fase larva. Kuda laut yang dibudidayakan di pusat konservasi ini berasal dari spesies Hippocampus kuda. Ubay menjelaskan fakta menarik mengenai proses berkembang biaknya.
"Fakta uniknya, kuda laut jantan memiliki kantung telur. Larva disimpan pada perut jantan dan nantinya dilepaskan dari sana," jelasnya.
Di area penangkaran terdapat benih dan indukan baik untuk nemo maupun kuda laut. Koordinator Divisi Biota Laut, Langgam, menyebutkan bahwa masyarakat umum diperbolehkan membeli nemo hasil budidaya dengan harga 1 ekornya Rp 25 ribu. Namun, terdapat batasan minimal pembelian.
"Kami hanya melayani pembelian skala besar, minimal 30 ekor, karena proses pengemasan yang cukup rumit," kata Langgam.
Jenis nemo hybrid yang paling mahal adalah jenis storm dan moka, dengan ciri warna dasar hitam dan bercak putih seperti polkadot. Untuk ukuran, kategori S adalah 2 sampai 3 cm, sedangkan ukuran L 3 sampai 4 cm. Ukuran dan jenis sangat memengaruhi harga ikan.
Kualitas air juga menjadi faktor penting. Air yang digunakan dalam budidaya berasal langsung dari laut, bukan air tawar, karena nemo tidak dapat bertahan di air tawar. Telur nemo berwujud kecil, transparan, dan menempel pada permukaan media seperti pot. Di alam liar, telur biasanya ditempatkan pada anemon. Perbedaan ukuran juga terlihat jelas antara jantan dan betina, betina berukuran lebih besar, sedangkan jantan lebih kecil.
Indukan bisa mulai dipilih dari ukuran sekitar 4 cm. Untuk proses pengembangbiakan, nemo biasanya dikumpulkan dalam satu wadah yang diberi pot atau anemon buatan agar memilih pasangannya sendiri.
Metode ini lebih cepat dibandingkan memasangkan satu per satu secara manual. Tak hanya nemo dan kuda laut yang dibudidaya di sini, pengelola berencana akan mencoba budidaya ikan hias lainnya seperti ikan dori.
"Kita akan mencoba membudidayakan jenis ikan lain seperti ikan dori," tambah Langgam.
Pusat Budidaya dan Konservasi Laut Pulau Tidung Kecil ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan biota laut sekaligus memperkuat ekosistem perairan Pulau Seribu.
(ddn/ddn)