Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Jul 2012 17:45 WIB

DESTINATIONS

Hati yang Miris di Ternate

Afif Farhan
Redaksi Travel
Ternate - Ternate menyisakan cerita tentang sejarah para penjajah di masa lalu. Ada peninggalan benteng dan monumen sebagai saksi bisunya. Akan tetapi, kondisinya sungguh mengenaskan, yaitu kurang terawat.

Sepanjang jalan berkelok menyusuri bukit yang berhadapan dengan laut, yang dilihat hanya pohon cengkeh. Pohon ini menjulang ke langit disesaki dengan pohon kelapa.

Pohon cengkeh ini pula yang membuat tiga bangsa Eropa, Spanyol, Portugis dan Belanda berusaha menduduki bumi Ternate silih berganti. Saling serang dan bertelikung dengan masyarakat setempat. Kini sisa-sisa abad ke-6 tersebut masih bisa dikunjungi, meski sudah tidak terawat.

Salah satu sisanya adalah Benteng Kastela yang berada 100 meter dari bibir Pantai Kastela. Namun, benteng kini telah hancur dan dipenuhi rerumputan. Di sisi kiri masih tersisa sebuah gundukan batu setinggi tiga meter.

"Sudah lama tidak terawat," kata warga setempat, Maemunah (32) kepada detikTravel, Kamis (5/7/2012).

Di lokasi benteng yang hanya seluas lapangan tenis ini berdiri Monumen Cengkeh dengan relief peristiwa Desember 1575, saat Portugis pertama kali mendarat di Ternate hingga terjadi pertempuran berdarah.

Bagaimana dengan pantainya? Pantai Kastela pun mengalami hal serupa. Gerbang dari papan rusak. Pondasi papan dari batako telah hancur. Adapun pasir hitamnya telah bercampur dengan sampah. Bangunan pun mengalami serupa dengan dinding penuh corat-coret. Toilet sebanyak empat kamar pun tidak berfungsi, penuh dengan bau busuk.

Setali tiga uang, Bandar Udara Sultan Babullah sebagai pintu masuk dari jalur udara pun tidak layak. Ruang tunggu mengambil tas sangat kecil, seukuran 9x 9 meter. Puluhan penumpang yang tiba di Ternate harap-harap cemas akan kehilangan barang bagasi dan kenyamanan bandara.

"He he he, itu terminal di sebelahnya sudah 6 tahun dibangun pakai APBD, tapi tidak jadi-jadi," kata tokoh masyarakat setempat yang juga ahli hukum tata negara, Margarito Kamis. Sungguh miris!




(asp/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED