Jadi, rasanya belum pas jika Anda mengunjungi Jepang tanpa melihat seperti apa kehidupan mereka di zaman dulu. Salah satu tempat di mana Anda bisa mendapatkan suasana Jepang di zaman dulu adalah desa terpencil di Prefektur Gifu, yang dinamai Shirakawa-go.
Dari Tokyo, ketika pergi dengan menggunakan bus, saya bisa mencapainya dalam waktu 6 jam. Itu pun kata Pak Sopir yang berkepala plontos. Bus sudah cukup ngebut karena mengejar agar pas sampai di sana desanya masih buka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dikunjungi akhir tahun lalu, tepatnya bulan November-Desember, salju mulai menyelimuti seluruh desa. Udara yang mendekati 0 derajat celsius terasa dingin menusuk tulang. Padahal kata penduduk sana musim dingin masih cukup lama. Brrr!!! Dasar orang dari daerah tropis ya.
Jadi kalau Anda mau berkunjung ke sini usahakan membawa mantel tebal dan syal biar tidak kedinginan. Payung juga harap dibawa takutnya kehujanan.
Apalagi, daerah ini merupakan salah satu tempat yang menerima salju paling banyak di seluruh Jepang. Wajar saja, soalnya desa yang mendapatkan gelar sebagai Situs Warisan Dunia Unesco ini dikelilingi oleh pegunungan dan sebagian besar wilayahnya hutan.
Yang unik dari pedesaan ini adalah struktur rumah berusia ratusan tahun yang dibuat sama. Rumah tradisional Jepang ini dinamai gassho-zukuri.
Untuk memasukinya, Anda diwajibkan membuka sepatu dan mengenakan sandal yang sudah disiapkan khusus. Biaya masuknya beberapa ratus yen.
Struktur rumahnya rata-rata terbuat dari kayu hitam dengan atap jerami berbentuk segitiga yang sama. Meski terkesan biasa, jangan salah, rumah kayu ini sudah dimodifikasi sehingga bisa tahan dengan segala jenis cuaca, mulai dari panas terik sampai salju yang lebat.
Namun karena masih tradisional, acap kali beberapa setahun sekali, jerami atap harus diganti dengan yang baru agar tidak bocor. Di dalamnya, biasanya tersedia perapian, dan altar tempat pemujaan.
Bagi Anda yang ingin membeli suvenir, tenang saja. Meski terlihat jadul, tempat ini sudah canggih kok. Ada toserba yang menjual berbagai pernak-pernik khas buatan warga sekitar, cukup murah.
(ddn/fay)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Perlu Diperhatikan, Wisatawan Tak Boleh Sembarangan Makan di Jalanan Italia