Sebuah pemandangan tak biasa tampak di Desa Samboja Lestari, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Tidak banyak yang tahu kalau desa yang diubah menjadi hutan buatan ini bisa menjadi tempat wisata alam yang asyik.
Di sini, wisatawan bisa melihat secara langsung rumah orangutan (Pongo pygmaeus) khas Kalimantan. Ya, Hutan Samboja seluas 1.800 hektar memang sengaja dirancang untuk merawat dan merehabilitasi orangutan, untuk kemudian dilepas ke alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dijadikan sebagai pusat rehabilitasi, wisatawan tetap bisa menikmati asyiknya berjalan di tengah hutan. Licin dan sulitnya trek di hutan menjadi tantangan tersendiri bagi setiap turis.
Rasakan sensasi tak terlupakan saat melaju di atas jalanan basah dan licin milik Samboja. Jika ingin lebih memicu adrenalin, kumpulkan segala keberanian Anda, dan nikmati trek licin dari atas mobil bak terbuka. Dijamin seru!
Sayangnya, tempat wisata alam ini kurang diminati turis domestik. Turis mancanegara lebih mendominasi kunjungan di Hutan Samboja. Ini terlihat saat detikTravel berkunjung beberapa saat lalu.
"Lebih banyak orang asing yang datang ke sini, mereka lebih menghargai orangutan rupanya," kata CEO Borneo Orangutan Survival (BOS), Jamartin Sihite kepada detikTravel.
Memang benar, turis asing lebih mendominasi wisatawan yang datang ke Hutan Samboja. Bahkan turis asing yang datang, membawa lengkap keluarganya.
Jika dilihat dari segi fasilitas, seluruh fasilitas sudah tersedia di tempat wisata alam ini. Mulai dari akomodasi yang baik hingga transportasi ada di sini.
"Penginapan memang diberi agak mahal, karena uangnya akan dipakai untuk pemeliharaan orangutan. Tapi penginapan kami ini tidak menyediakan televisi, mungkin itu juga yang bikin orang lokal tidak mau," tambah Martin.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Tragedi Papua, Penerbang Senior Angkat Bicara soal Risiko Terbang di Daerah Rawan